"Ini bukan hanya masalah nuklir," tegasnya.
Dalam pandangannya, dukungan Iran terhadap gerakan Hamas di Palestina, pemberontak Houthi di Yaman, dan Hizbullah di Lebanon merupakan bagian integral dari ancaman yang harus ditangani dalam setiap kesepakatan. Dorongan ini, bagaimanapun, ditolak oleh Trump dalam pertemuan mereka, yang lebih memilih untuk fokus pada kelanjutan pembicaraan.
Lanskap Diplomasi yang Berat dan Penuh Tantangan
Upaya diplomasi antara AS dan Iran berjalan di atas jalan yang berbatu. Putaran pembicaraan terakhir sebelumnya dipersingkat oleh konflik langsung selama 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025, yang diikuti dengan serangan AS terhadap fasilitas nuklir. Insiden itu meninggalkan jejak ketidakpercayaan yang dalam.
Meski pertemuan di Oman pekan lalu menandai dimulainya kembali dialog, ruang lingkupnya masih menjadi titik sengketa. Pihak Iran secara konsisten menolak untuk memperluas agenda pembicaraan di luar program nuklirnya. Sebaliknya, Washington terus mendorong agar isu rudal balistik dan dukungan regional Teheran juga menjadi bagian dari pakta negosiasi.
Sementara itu, retorika dari Gedung Putih tetap mengandung nada keras. Presiden Trump telah beberapa kali mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer menyusul penindasan protes di Iran bulan lalu, menciptakan suasana diplomasi yang diwarnai ancaman. Situasi ini menggambarkan kompleksitas tantangan yang dihadapi para negosiator, di mana harapan untuk kesepakatan harus berhadapan dengan realitas geopolitik yang tegang dan kepentingan keamanan yang saling bersilangan.
Artikel Terkait
Menaker Usulkan Industri Kreatif Jadi Laboratorium Magang Nasional
Bupati Banyuwangi Paparkan Capaian 2025: IPM Naik, Kemiskinan Turun, Ekonomi Tumbuh 5,65%
Pemprov DKI Siapkan Aturan Teknis WFH Jumat, Layanan Publik Tetap Beroperasi
INET dan WIFI Perluas Kolaborasi ke Layanan Tetap Nirkabel