MURIANETWORK.COM - Sekelompok pemukim Israel diduga menghancurkan belasan rumah dan kandang hewan milik warga Palestina di sebuah desa dekat Kota Jericho, Tepi Barat, pada Kamis (12/2/2026). Insiden ini terjadi di tengah gelombang kekerasan yang memaksa banyak keluarga Palestina meninggalkan tempat tinggal mereka, serta berlangsung tak lama setelah pemerintah Israel mengesahkan kebijakan yang diperkirakan akan memperluas kendali di wilayah pendudukan tersebut.
Kronologi Penghancuran di Al-Duyuk al-Tahta
Menurut keterangan para saksi mata, sekitar 50 orang pemukim bersenjata dan bertopeng tiba di desa Al-Duyuk al-Tahta. Mereka didampingi sebuah kendaraan militer sebelum kemudian menggunakan buldoser untuk melaksanakan penghancuran. Bangunan-bangunan yang rata-rata berupa gubuk seng itu rata dengan tanah. Tak hanya struktur bangunan, hewan ternak dan barang-barang milik warga juga ikut diambil.
Mustafa Kaabneh, seorang penduduk yang telah tinggal di daerah itu hampir 20 tahun, menggambarkan suasana mencekam saat peristiwa terjadi. "Sekitar 50 pemukim tiba, memaksa semua orang keluar dari rumah dan mulai menghancurkannya. Kemudian mereka mengambil semuanya - bahkan ayam-ayamnya," tuturnya.
Kekerasan dan Pengusiran yang Dilaporkan
Kekerasan yang dialami warga dilaporkan tidak berhenti pada penghancuran properti. Bassem Kaabneh (23), warga lainnya, menyebutkan tindakan pemukim jauh lebih brutal. Ia menceritakan bahwa para pemukim itu juga memukuli perempuan dan anak-anak, sebelum akhirnya mengusir paksa keluarga-keluarga dari rumah mereka dan menyita barang-barang pribadi.
Abu Audi al-Rajabi, salah seorang korban yang kehilangan tempat tinggal, menegaskan bahwa aksi penghancuran itu dilakukan tanpa pemberitahuan hukum sebelumnya. "Rumah itu dibangun 13 tahun yang lalu dan telah dihuni sejak saat itu," jelasnya dengan nada prihatin.
Latar Belakang Eskalasi Kekerasan
Insiden terbaru ini bukanlah yang pertama dan terjadi dalam konteks yang makin mengkhawatirkan. Kekerasan oleh pemukim terhadap komunitas Palestina di Tepi Barat telah berulang kali tercatat, seringkali berujung pada pengungsian warga. Situasi ini semakin memanas pasca disahkannya langkah-langkah baru oleh kabinet keamanan Israel yang bertujuan memperketat kendali di Tepi Barat. Kebijakan tersebut, menurut pengamatan sejumlah pihak, berpotensi membuka jalan bagi ekspansi permukiman lebih luas, yang secara historis sering memicu ketegangan dan konflik horizontal di lapangan.
Artikel Terkait
KPK Serahkan Aset Rampasan Korupsi Senilai Rp16,39 Miliar ke Pemprov Jabar
Kapolri Soroti Ancaman Utama Global: Konfrontasi Geoekonomi hingga Kemiskinan
Aktivis Soroti Responsivitas dan Program Sekolah Gratis Andra Soni Setahun Memimpin Banten
DBM DKI Perbaiki Jalan Berlubang di Flyover Grogol Pascakecelakaan Ojol