Di sisi lain, Kiai Cholil juga menyentuh soal anggapan publik. Lembaga keagamaan seperti MUI, menurutnya, tak bisa diukur dengan kacamata bisnis. Hitung-hitungan pengembalian biaya pembangunan seperti pada perusahaan swasta jelas tidak relevan.
Posisi MUI sendiri ditegaskan kembali sebagai mitra pemerintah yang independen. Bukan musuh, tapi juga bukan pihak yang selalu membenarkan setiap kebijakan. "Kalau kebijakan itu benar dan baik untuk bangsa, kita dukung sepenuhnya. Kalau ada yang keliru, kita ingatkan. Itulah posisi mitra," tegasnya.
Pada akhirnya, lokasi kantor bukanlah segalanya. Kiai Cholil menutup penjelasannya dengan pesan sederhana. Di mana pun MUI berkantor, tugas utama mereka tetaplah melayani umat.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa keberadaan gedung baru, bila jadi, hanyalah sarana. Bukan tujuan utama.
Artikel Terkait
Kebakaran Pabrik Terpal di Gunung Putri, Empat Unit Damkar Dikerahkan
Jens Raven Gantikan Mauro Zijlstra yang Cedera untuk Final FIFA Series 2026
Nenek Penjual Sosis di Maros Jadi Korban Pencurian Berani di Siang Bolong
Pakar UGM: PP TUNAS Perlu Diimbangi Literasi Digital untuk Cegah Kecanduan Anak