MURIANETWORK.COM - Buenos Aires kembali memanas. Ribuan buruh dan anggota serikat pekerja memadati jalan-jalan ibu kota Argentina pada Rabu (22/5/2024) waktu setempat, memprotes paket reformasi ketenagakerjaan yang diusung pemerintahan Presiden Javier Milei. Aksi damai yang diorganisir oleh Konfederasi Umum Tenaga Kerja (CGT) itu berubah ricuh, memicu bentrokan dengan aparat keamanan yang berusaha membubarkan massa.
Bentrokan di Depan Kongres
Suasana tegang menggantikan unjuk rasa damai yang semula berlangsung di sekitar gedung Kongres. Untuk membubarkan kerumunan yang dianggap melampaui batas, pasukan keamanan mengerahkan meriam air dan gas air mata. Mereka juga melepaskan tembakan peluru karet ke arah demonstran.
Sebagian pengunjuk rasa tak tinggal diam. Mereka membalas dengan melemparkan batu, botol, dan bahkan bom molotov ke arah barikade polisi. Adegan saling dorong dan kejar-kejaran pun mewarnai kawasan yang biasanya menjadi pusat aktivitas politik tersebut.
Suara Keras dari Serikat Buruh
Di balik kericuhan, inti protes tetap jelas: penolakan terhadap rancangan undang-undang yang dianggap mengikis hak-hak dasar pekerja. CGT, sebagai koalisi serikat buruh terbesar di negara itu, menilai reformasi ini sebagai langkah mundur bagi keadilan sosial.
"Ini bukan modernisasi. Ini adalah bentuk penghematan paksa yang dibebankan di pundak para pekerja," tegas pernyataan resmi CGT yang dikutip dari siaran pers mereka.
Poin-poin yang paling ditentang antara lain aturan yang mempermudah pemutusan hubungan kerja (PHK), pengurangan besaran uang pesangon, serta pembatasan peran serikat dalam negosiasi perburuhan.
Argumentasi Pemerintah dan Dukungan di Senat
Di sisi lain, pemerintah Presiden Milei bersikukuh bahwa reformasi pasar tenaga kerja adalah langkah krusial. Visi ekonomi libertarian Milei menempatkan deregulasi dan pasar bebas sebagai kunci untuk menarik investasi dan menyelamatkan ekonomi Argentina dari krisis inflasi yang parah.
Pandangan ini mendapat dukungan dari sejumlah kalangan di Senat. Senator Patricia Bullrich, mantan menteri keamanan, berpendapat bahwa regulasi yang ada saat ini justru memberatkan dunia usaha.
"Kondisi pasar tenaga kerja Argentina saat ini tidak seimbang dan terlalu terbebani oleh proses hukum yang berbelit-belit," ujarnya, membela paket reformasi yang tengah digodok.
Dilema di Tengah Krisis Ekonomi
Langkah Milei memang berangkat dari janji kampanye yang populis. Kemenangannya pada 2023 didorong oleh kekecewaan publik terhadap kinerja ekonomi pemerintahan sebelumnya dan inflasi yang meroket. Simbol "gergaji mesin" yang ia usung menjadi janji pemangkasan belanja negara yang drastis.
Namun, kebijakan penghematan atau austerity yang diterapkannya, termasuk dalam hal ketenagakerjaan, menuai kritik tajam. Banyak pengamat ekonomi dan aktivis sosial memperingatkan bahwa langkah ini berisiko meningkatkan ketimpangan dan memukul kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, di saat yang sama pemerintah berjuang menstabilkan makroekonomi. Ketegangan di jalanan Buenos Aires menjadi gambaran nyata dari dilema sulit antara stabilisasi fiskal dan perlindungan sosial.
Artikel Terkait
KAI Siapkan 67 Ribu Kursi Kereta Antisipasi Lonjakan Penumpang Imlek 2026
Kecelakaan Maut di Cibinong, Penumpang Motor Tewas Tertabrak Bus
Penerbangan di Bandara Korowai Batu Ditutup Usai Pesawat Ditembak, Dua Pilot Tewas
Pemkot Bandung Tutup Seluruh Hiburan Malam Selama Ramadan dan Imlek 2026