MURIANETWORK.COM - Suasana Rapat Dengar Pendapat antara Komisi XII DPR dan SKK Migas memanas akibat perbedaan data dan pernyataan antar pejabat pemerintah. Perdebatan sengit antara Fraksi PDIP dan Fraksi Golkar meletus pada Rabu (10/2/2026) di Senayan, Jakarta, menyusul paparan kenaikan lifting migas 2025 oleh Kepala SKK Migas Djoko Siswanto. Polemik berpusat pada kesesuaian data tersebut dengan pernyataan kontradiktif dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Pemicu Polemik Data Lifting Migas
Rapat yang semula berjalan untuk membahas kinerja sektor migas ini berubah arah setelah pemaparan Djoko Siswanto. Kepala SKK Migas itu menyampaikan adanya kenaikan lifting migas pada tahun 2025, sebuah pencapaian setelah bertahun-tahun mengalami tren penurunan. Namun, informasi ini justru memantik pertanyaan kritis dari anggota dewan, yang merasa terdapat ketidakselarasan dengan pernyataan pejabat lain.
Anggota Komisi XII DPR dari Fraksi PDIP, Cornelis, secara terbuka mengungkapkan kebingungannya. Ia mempertanyakan konsistensi data SKK Migas dengan penjelasan yang pernah disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menurut penelusurannya, Menteri Keuangan menyatakan bahwa kenaikan lifting hanya mungkin terjadi jika ada penambahan sumur baru.
"Menkeu bilang lifting itu bisa naik kalau ada penambahan sumur baru, nah ini apakah ada penelitian sumur baru?" kata Cornelis saat rapat.
Tudingan "Permainan Kata" dan Tanggapan Golkar
Cornelis kemudian menyoroti perbedaan antara pernyataan Menteri Keuangan dan Menteri ESDM. Ia menilai ada ketidakjelasan yang berpotensi menyesatkan dari pihak eksekutif, yang membuat anggota dewan kesulitan menentukan data mana yang dapat dijadikan pegangan.
"Jadi perbedaan antara Menkeu dan Menteri ESDM ini kelihatannya Menteri ESDM hanya permainan kata-kata, permainan istilah... seolah-olah Menteri ESDM ya ada bohong-bohong sikit lah, pegangan kami yang mana yang benar ini, tolong Bapak beri penjelasan," tegas Cornelis.
Merespons langsung tudingan tersebut, anggota Fraksi Golkar Alfons Manibui mengambil sikap berbeda. Ia mengajak semua pihak untuk melihat momentum kenaikan lifting ini secara objektif dan justru mengapresiasinya sebagai sebuah pencapaian positif setelah sembilan tahun mengalami penurunan.
"Pak Ketua, saya sedikit berbeda dengan PDIP, saya pikir kita harus cukup objektif melihat lalu mengartikan momentum kenaikan di tahun 2025 sebagai sebuah titik di mana kita mampu bergerak kembali naik, dan ini harusnya menjadi sesuatu yang harus kita syukuri, kita apresiasi," jawab Alfons.
Alfons menegaskan bahwa kurang tepat jika menyebut pernyataan Menteri ESDM sebagai kebohongan. Ia berargumen bahwa semua data yang disajikan telah menunjukkan kesesuaian dengan realitas di lapangan.
"Saya pikir kurang pas juga kalau kita bilang ada bapak kita yang mungkin perkataannya kurang pas, saya pikir tidak begitu, semua kan disajikan dan ditampilkan dengan angka-angka, memang sejalan kok," tutur dia.
"Saya tidak dalam posisi untuk membela tapi mengajak kawan kawan marilah kita melihat ini secara objektif, bahwa memang betul ini momentum untuk yakinkan kita semua bahwa kita mampu meningkatkan lifting," lanjut Alfons.
Konteks Pernyataan Kontroversial Menkeu
Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menjadi bahan perdebatan ternyata disampaikan dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR pada pekan sebelumnya. Saat itu, Purbaya memberikan penjelasan teknis yang gamblang mengenai sifat alami produksi migas dan pentingnya eksplorasi baru.
"Ini PNBP migas itu hampir pasti turun terus kalau kita nggak ada eksplorasi baru, karena nature dari reservoir itu pasti turun kalau sudah capai puncak pasti turun terus, nggak ada yang bisa naik. Jadi salah satu cara adalah mengundang investor baru domestik atau asing untuk lakukan eksplorasi minyak dan gas," kata Purbaya dalam rapat tersebut, Rabu (4/2).
Lebih lanjut, Purbaya secara implisit memperingatkan adanya upaya untuk menciptakan kesan peningkatan produksi tanpa disertai penemuan ladang baru. Pernyataannya inilah yang kemudian dikutip oleh Cornelis dalam rapat dengan SKK Migas.
"Kalau sekarang ya diputer-puter ya juga paling main-main istilah supaya kelihatan naik kan, tapi tanpa penemuan ladang minyak baru, tanpa eksplorasi baru, kita nggak akan bisa naikkan lifting dan lifting kita akan turun terus," ujar dia.
Perdebatan ini mengungkap kompleksitas pengelolaan data sektor strategis migas dan pentingnya komunikasi yang transparan serta konsisten antar lembaga pemerintah. Di tengah upaya meningkatkan investasi dan produksi, kejelasan informasi menjadi fondasi utama untuk pengawasan dan pembuatan kebijakan yang tepat.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Akan Hadiri Rapat Perdana Dewan Perdamaian AS dan Tandatangani Kesepakatan Tarif
SKK Migas Pacu Eksplorasi, Targetkan 100 Sumur Baru pada 2026
Tabrakan Beruntun 7 Kendaraan di Underpass Jagorawi, Lalu Lintas Sempat Ditutup Total
Gubernur DKI Janjikan Dukungan Penuh untuk Pertahankan Gelar Juara Karate pada PON 2028