“Kami bangga atas kerja keras seluruh aparat dan pemerintah. Hingga saat ini hampir 99% listrik di Aceh telah kembali menyala, dan akses jalan serta jembatan yang sempat terputus terus dipulihkan,” katanya.
Di sektor kesehatan, pelayanan rumah sakit dan puskesmas terus dipastikan berjalan. Seluruh upaya ini dilakukan atas arahan Presiden yang bertekad membangun Aceh lebih baik dari sebelumnya. Namun, tantangan lain masih mengemuka, seperti kebutuhan pelonggaran BBM untuk operasional alat berat, keterbatasan ternak, serta keberlanjutan kepesertaan BPJS Kesehatan bagi ratusan ribu warga.
Memelihara Tradisi di Tengah Keterbatasan
Di antara berbagai prioritas pemulihan, ada satu hal yang mendapat perhatian khusus: tradisi Meugang menyambut Ramadan. Pemerintah daerah, dengan segala keterbatasan, memutuskan untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pangan untuk tradisi yang mengakar ratusan tahun ini, sebelum kebutuhan ibadah lainnya.
“Kami berdiskusi mengenai prioritas bantuan yang dapat diberikan, apakah dalam bentuk kebutuhan pangan Meugang atau kebutuhan ibadah seperti sajadah, sarung, mukena, kerudung, pakaian, hingga Al-Qur'an. Dengan keterbatasan yang ada, Pemerintah Provinsi Aceh memutuskan untuk memprioritaskan pelaksanaan Meugang terlebih dahulu,” jelas Muzani.
Sebagai bentuk dukungan nyata, MPR menyerahkan bantuan kemanusiaan berupa 15.000 paket sembako dan 15.000 paket perlengkapan ibadah yang disalurkan ke delapan kabupaten terdampak, seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Tengah.
Kunjungan yang Sarat Makna
Kedatangan rombongan pimpinan MPR RI di Bandara Sultan Iskandar Muda disambut dengan Tari Ranup Lampuan, sebuah simbol penghormatan budaya. Kunjungan yang juga dihadiri sejumlah wakil ketua MPR, menteri, dan perwakilan fraksi ini diakhiri dengan pertemuan bersama para ulama di Aceh Besar.
“Kami ingin memastikan masyarakat Aceh tidak merasa sendirian. Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota akan terus bergandengan tangan,” kata Muzani.
“Kami optimistis Aceh akan bangkit dan menjadi lebih baik,” imbuhnya.
Langkah mereka di tanah Rencong lebih dari sekadar kunjungan formal; ia adalah deklarasi bahwa dalam setiap upaya pemulihan, aspek kemanusiaan dan keluhuran budaya tetap menjadi pijakan utama. Seperti tarian penyambut yang penuh makna, komitmen kebangsaan hadir untuk menjaga nyala harapan agar tak padam diterpa musibah.
Artikel Terkait
Studi UI: Krisis Selat Hormuz 2026 Berdampak Asimetris pada BUMN, Ada yang Tertekan Ada yang Diuntungkan
Anggota DPRD Palembang Dukung Pembatasan Akun Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series 2026 di GBK
TNI AU Gelar Bakti Sosial, Berikan Kaki Palsu Gratis di Yogyakarta