Jakarta, Februari 2026 – Ramadan sudah di depan mata. Tapi, kapan tepatnya puasa dimulai? Pemerintah, lewat Kementerian Agama, belum mengeluarkan keputusan resmi. Mereka masih menunggu Sidang Isbat. Nah, di sisi lain, Muhammadiyah sudah lebih dulu mengumumkan jadwalnya. Jadi, bagaimana perkiraannya?
Nanti Ditetapkan Lewat Sidang Isbat
Kemenag rencananya akan menggelar pemantauan hilal pada 17 Februari 2026. Pemantauan ini tersebar di 96 titik di Indonesia. Hasil pengamatan lapangan itu nantinya akan dibahas dalam forum Sidang Isbat yang digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kemenag.
Acara sidangnya sendiri bakal ramai. Diundanglah berbagai pihak, mulai dari Duta Besar negara sahabat, perwakilan DPR, Mahkamah Agung, MUI, sampai lembaga-lembaga seperti BMKG, BRIN, dan Planetarium Jakarta. Tak ketinggalan, para pakar hisab rukyat dari ormas-ormas Islam besar juga akan hadir.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan sidang ini penting untuk memastikan semua proses berjalan ilmiah dan transparan.
“Sidang isbat mempertemukan data hisab dengan hasil rukyatul hilal. Pemerintah berupaya memastikan penetapan awal Ramadan dilakukan secara ilmiah, transparan, dan melibatkan seluruh unsur terkait,” jelas Abu Rokhmad.
Secara teori, peluang melihat hilal pada tanggal 17 Februari itu kecil. Data hisab menunjukkan posisi bulan saat matahari terbenam masih di bawah ufuk, dengan ketinggian negatif. Itu artinya, secara kriteria visibilitas hilal MABIMS yang mensyaratkan ketinggian minimal 3 derajat, hilal diprediksi belum akan terlihat.
Jadi, kemungkinan besar bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari. Keputusan finalnya, tentu saja, menunggu pengumuman resmi usai sidang.
“Hasil hisab dan rukyat akan kami bahas bersama. Keputusan akhir disampaikan kepada masyarakat agar menjadi pedoman bersama umat Islam di Indonesia,” tambah Abu Rokhmad.
Muhammadiyah Sudah Tetapkan 18 Februari
Sementara pemerintah masih menunggu, Muhammadiyah sudah punya jawaban pasti. Lewat Maklumat resminya, ormas Islam ini menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026.
Penetapan ini berdasar pada hisab hakiki dan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mereka anut. Perhitungan mereka menunjukkan ijtimak terjadi pada 17 Februari 2026. Namun, pada saat matahari terbenam hari itu, kriteria visibilitas hilal versi mereka belum terpenuhi di belahan bumi mana pun.
Baru setelah lewat tengah malam UTC, ada satu wilayah di daratan Amerika yang memenuhi syarat parameter mereka. Nah, berdasarkan prinsip kesatuan matlak global itu, maka 1 Ramadan berlaku serentak di seluruh dunia keesokan harinya, yaitu 18 Februari.
Keputusan ini memberi kepastian bagi warga Muhammadiyah. Mereka sudah bisa mempersiapkan diri untuk menyambut bulan suci dan menunaikan ibadah puasa mulai tanggal tersebut.
Jadi, kita tinggal menunggu sidang isbat pemerintah. Apakah hasilnya akan sama? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
Satpol PP Amankan Simpang Kunir-Kemukus Usai Aksi Pungli Viral
MU Tanpa Tiga Pilar Lagi Saat Hadapi West Ham
AHY Serukan Dukungan dan Pengawasan Kader Demokrat terhadap Pemerintahan Prabowo
SDN 64 Ambon Resmi Ditetapkan sebagai Sekolah Ramah Anak oleh Pemkot