"Jadi, awal saya punya feeling, kalau ini pengadaan, yang sebelum-sebelumnya Windows, tapi ini dengan era Pak Nadiem ini, Chromebook. Pengadaan yang berubah itu, ini feeling saya, ini kan akan memubazirkan, ini feeling saya, ini yang pengadaan-pengadaan sebelumnya itu menjadi tidak, tidak ada apa ya, tidak maksimal gitu lah," tutur Bambang menjawab pertanyaan jaksa.
Keterbatasan Pengalaman dan Skala Proyek
Lebih lanjut, Bambang menjelaskan bahwa kekhawatirannya diperparah oleh dua hal: besarnya nilai proyek dan keterbatasan pengalamannya sendiri. Ia mengaku masih awam menangani pengadaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dengan skala sebesar itu. Data dari lapangan yang ia ketahui justru menunjukkan bahwa pengguna lebih mengunggulkan platform Windows.
"Jadi, yang pertama adalah ini pengadaan yang besar. Yang kedua, yang sebelumnya sudah dikaji, sudah diujicobakan, tapi ternyata ketika deal-nya adalah berbeda. Saya khawatir akan terjadi masalah besar," jelasnya.
"Yang kedua, ini baru pertama kali saya menjabat PPK untuk digitalisasi yang TIK. Jadi, saya awam, ini pengadaan besar, dan diujicobakan di lapangan itu banyak penggunanya itu dari kuisioner yang ada untuk unggulnya di Windows," sambung Bambang.
Kesaksian ini memberikan gambaran lebih personal mengenai dinamika internal dan tekanan yang terjadi di balik layar proyek pengadaan Chromebook. Sidang terhadap mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim sebagai terdakwa dalam kasus ini masih berlanjut.
Artikel Terkait
Menteri Perdagangan Pastikan Diversifikasi Sumber Impor Pupuk untuk Jaga Stabilitas Pasokan
Bareskrim Tetapkan Tangan Kanan Bandar The Doctor sebagai DPO, Diduga Bersembunyi di Malaysia
Suami Laporkan Istri ke Polisi Diduga Jual Tiga Anak Kandung di Makassar
Timnas Indonesia Jalani Laga Debut John Herdman Kontra Saint Kitts Malam Ini