Gereja dan Muhammadiyah Bantu Sukseskan HUT NU di Malang, Prabowo Hadir

- Minggu, 08 Februari 2026 | 05:30 WIB
Gereja dan Muhammadiyah Bantu Sukseskan HUT NU di Malang, Prabowo Hadir

Kerukunan antarumat terpampang nyata di Malang. Menjelang acara besar Nahdlatul Ulama, gereja-gereja sampai mengubah jadwal ibadahnya. Katedral Malang, misalnya, memangkas misa dari enam kali menjadi cuma dua kali. Semua itu demi NU.

Tak cuma gereja. Sekolah dan masjid milik Muhammadiyah juga disiapkan jadi tempat transit bagi ribuan tamu dari luar kota. GKJW bahkan menyediakan posko lengkap dengan hidangan untuk mereka yang singgah. Lagi-lagi, semuanya untuk NU.

Acara besarnya sendiri digelar Sabtu-Minggu lusa: sebuah Mujahadah Akbar merayakan satu abad usia organisasi itu versi kalender Masehi. Padahal, sebetulnya perayaan serupa sudah digelar pekan lalu di Jakarta, tepat di hari kelahirannya, 31 Januari 1926. Lalu kenapa ada dua?

“Sudah tidak bisa dirukunkan lagi,” ujar KH Imam Jazuli, pendiri Ponpes Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon.

Kiai yang pernah nyantri di Al Azhar Kairo ini bicara soal dua kubu yang sedang berseteru: kubu Gus Yahya (Ketum PBNU) dan kubu Kiai Akhyar (Rais Aam PBNU). Upaya mendamaikan mereka sebenarnya sudah masif. Bahkan sempat berhasil atau setidaknya terlihat begitu. Mereka sudah bertemu, saling rangkul. Tapi nyatanya, perayaan HUT tetap terbelah dua.

“Secara visi dan misi sudah tidak bisa bersatu,” tambah Imam Jazuli.

Di balik layar, Kiai Imam dikenal sebagai tokoh garis politik di NU. Meski tak terjun langsung, ia banyak membiayai kader NU yang maju lewat PKB. Kenaikan drastis kursi partainya di pemilu lalu konon tak lepas dari jasanya. Ia dengan terang-terangan tak menyukai kubu Gus Yahya, yang dinilainya menjauhkan NU dari PKB.

Namun begitu, ia pun memilih tak hadir di acara besar di Malang nanti. Alasannya sederhana: ada kunjungan duta besar ke pondoknya.

Sejujurnya, klaim bahwa mereka benar-benar tak bisa bersatu agak berlebihan. Rabu kemarin, rapat pleno lengkap justru bisa digelar. Semua pihak hadir Kiai Akhyar lewat zoom dan suasana dikabarkan cukup cair. Mereka bahkan sempat membicarakan agenda muktamar mendatang.

Tapi nuansa perpecahan itu tetap terasa, terutama dari gencarnya publikasi. Acara di Malang dipastikan akan jauh lebih meriah ketimbang yang di Jakarta. Momentumnya juga dianggap lebih pas: krisis bursa saham mulai reda, dan yang terpenting, Presiden Prabowo dipastikan hadir.

Kehadiran presiden inilah yang bisa dibaca sebagai sinyal politik. Saat Gus Yahya menggelar hajatan di Istora Senayan pekan lalu, presiden absen. Konon, beliau baru mau datang jika undangannya ditandatangani oleh keempat pimpinan tertinggi PBNU. Waktu itu, yang hadir cuma Menag Nasaruddin Umar, tokoh yang dikenal netral.

Seorang wartawan yang meliput acara di Senayan mencatat suasana yang agak sepi. Tidak seperti biasanya kalau NU bikin acara. Mungkin karena hujan yang tak henti mengguyur Jakarta. Atau mungkin juga gara-gara harga saham yang sedang ambruk pada hari itu siapa tahu banyak warga NU yang main saham hingga sedang berduka.

Bisa juga mereka sudah menangkap gelagat bahwa presiden tak akan hadir. Anda yang dari NU pasti paham bagaimana membaca suasana kebatinan seperti itu.

Maka, panitia di Malang tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Acara digelar di Stadion Gajayana, jantung kota Malang, bukan di tempat yang kecil. Lokasinya cuma sepelemparan batu dari Gereja Katedral.

Antisipasinya pun luar biasa. Dua belas jalur jalan ditutup total dari Sabtu hingga Minggu siang. Gereja Katedral akhirnya memutuskan membatalkan misa Sabtu dan Minggu pagi. Bukan dilarang, tapi lokasi parkirnya jadi terlalu jauh. Mereka hanya akan gelar dua misa: Minggu sore dan malam.

Gelombang massa sudah mulai mengalir sejak Sabtu siang. Data yang masuk ke panitia menunjukkan lebih dari 100 ribu orang akan membanjiri kota. Acara puncaknya dimulai Sabtu malam dengan salawat berirama, dilanjutkan khataman Quran 999 kali tepat tengah malam biasanya dilakukan dengan cepat secara borongan oleh ribuan suara.

Setelah salat malam hingga subuh, acara inti baru dimulai. Presiden Prabowo dijadwalkan memberi sambutan usai salat Subuh. Rencananya, semua akan beres sebelum pukul delapan pagi.

Kehadiran presiden di acara semacam ini selalu punya makna khusus. Dua tahun lalu, Presiden Jokowi hadir di perayaan HUT NU versi Hijriah di Sidoarjo. Waktu itu, macetnya total sampai ke tol. Acaranya meriah, penuh kenangan. Tak cuma kenangan indah, tapi juga politik dan ekonomi kala itu NU dapat konsesi tambang batu bara.

Kini, semua mata tertuju ke Malang. Menunggu sejarah baru ditorehkan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar