MURIANETWORK.COM - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, menyoroti pentingnya ruang bercerita bagi anak, menyusul tragedi meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Analisis sementara menunjukkan bahwa korban, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, diduga tidak memiliki tempat untuk mengungkapkan beban perasaan yang dihadapinya, yang berujung pada keputusasaan.
Analisis Awal: Akumulasi Masalah dan Budaya
Dalam keterangannya di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026), Menteri Arifatul menjelaskan bahwa insiden tragis ini kemungkinan merupakan puncak dari akumulasi persoalan yang dihadapi sang anak. Titik kritisnya adalah ketiadaan saluran untuk berbagi atau bercerita tentang kesulitan yang dirasakannya.
"Kalau menurut analisa kami, ini akumulasi ya, dari beberapa yang apa, persoalan yang dihadapi si anak. Tapi si anak ini mungkin tidak punya tempat untuk bercerita," ungkapnya kepada para wartawan.
Arifatul juga menyentuh aspek budaya yang mungkin turut berpengaruh. Dalam sejumlah lingkungan, masih berkembang norma yang menuntut anak laki-laki untuk selalu tampil kuat dan menahan emosi. Hal ini, menurutnya, berpotensi mempersempit ruang ekspresi bagi anak-anak laki-laki.
"Karena kan masih ada di budaya kita laki-laki harus kuat, laki-laki nggak boleh cengeng, laki-laki nggak boleh nangis gitu ya. Jadi ini mungkin menjadi, mungkin ya," ujar Arifatul.
Kronologi Kesedihan yang Berujung Tragedi
Peristiwa memilukan ini berawal dari situasi ekonomi keluarga yang sangat sulit. YBR, siswa kelas IV di sebuah SD Negeri di Kecamatan Jerebuu, dilaporkan meninggal setelah melakukan gantung diri. Pemicu langsungnya adalah kekecewaan karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.
Ibunya, yang hidup sebagai janda, tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar sekolah anaknya tersebut. Tekanan ekonomi keluarga ini semakin berat oleh kewajiban finansial dari sekolah. YBR, bersama siswa lainnya, diketahui berkali-kali ditagih untuk pembayaran uang sekolah sebesar Rp 1.220.000 per tahun, yang dibayar secara cicilan.
Pentingnya Pendalaman dan Evaluasi
Menteri Arifatul menekankan bahwa analisis terhadap kasus ini masih terus dilakukan secara mendalam. Pihaknya berhati-hati dalam menarik kesimpulan final sebelum seluruh fakta dan konteks sosial-budaya terpetakan dengan jelas.
"Kita belum analisa nanti kalau sudah ada analisa yang lebih kuat, kita akan sampaikan. Tapi analisa sementara bahwa si anak ini tidak punya tempat untuk bercerita apa yang sebetulnya sedang dirasakan," imbuhnya.
Pernyataan ini menggarisbawahi kompleksitas persoalan, yang tidak hanya menyangkut tekanan ekonomi, tetapi juga sistem dukungan psikologis bagi anak, norma sosial yang berlaku, serta mekanisme perlindungan di lingkungan pendidikan. Kasus ini menjadi pengingat pilih akan pentingnya kepekaan terhadap beban emosional yang mungkin dipikul anak-anak, terutama di tengah kesulitan material.
Artikel Terkait
43 Lubang di Flyover Ciputat Picu Kecelakaan, Dua Titik Dinilai Kritis
HSR Wheels Luncurkan Logo Baru Berkarakter Indonesia Banget di IIMS 2026
Anak 11 Tahun Asal Bima Raih Juara I MTQ Internasional di Irak
Tabrakan Minibus dan Motor di Kembangan, Satu Orang Luka-Luka