MURIANETWORK.COM - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, menyoroti pentingnya ruang bercerita bagi anak, menyusul tragedi meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Analisis sementara menunjukkan bahwa korban, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, diduga tidak memiliki tempat untuk mengungkapkan beban perasaan yang dihadapinya, yang berujung pada keputusasaan.
Analisis Awal: Akumulasi Masalah dan Budaya
Dalam keterangannya di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026), Menteri Arifatul menjelaskan bahwa insiden tragis ini kemungkinan merupakan puncak dari akumulasi persoalan yang dihadapi sang anak. Titik kritisnya adalah ketiadaan saluran untuk berbagi atau bercerita tentang kesulitan yang dirasakannya.
"Kalau menurut analisa kami, ini akumulasi ya, dari beberapa yang apa, persoalan yang dihadapi si anak. Tapi si anak ini mungkin tidak punya tempat untuk bercerita," ungkapnya kepada para wartawan.
Arifatul juga menyentuh aspek budaya yang mungkin turut berpengaruh. Dalam sejumlah lingkungan, masih berkembang norma yang menuntut anak laki-laki untuk selalu tampil kuat dan menahan emosi. Hal ini, menurutnya, berpotensi mempersempit ruang ekspresi bagi anak-anak laki-laki.
"Karena kan masih ada di budaya kita laki-laki harus kuat, laki-laki nggak boleh cengeng, laki-laki nggak boleh nangis gitu ya. Jadi ini mungkin menjadi, mungkin ya," ujar Arifatul.
Artikel Terkait
Paus Serukan Gencatan Senjata dan Dialog untuk Akhiri Konflik di Timur Tengah
Jasa Marga Imbau Disiplin Pengendara di Jalur One Way dan Contraflow Arus Balik
Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Perairan Halmahera Selatan
Kas PT Vale Indonesia Menyusut Drastis Didorong Ekspansi Investasi