“Ini semua harus didiskusikan,” tegas Gus Yahya. “Karena pasti enggak mungkin, saya, misalnya sebagai ketua umum membuat keputusan sendiri, Rais Aam membuat keputusan sendiri juga, tidak mungkin.”
Keputusan akhir, lanjutnya, harus benar-benar jadi keputusan bersama. Seperti halnya keputusan awal menerima konsesi ini dulu, yang juga merupakan keputusan organisasi, bukan perorangan. Soal pemberian izinnya sendiri, Gus Yahya menegaskan, itu diberikan oleh negara. PBNU tidak pernah meminta.
Di kesempatan yang sama, Gus Yahya juga menyentuh hubungannya dengan Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Dia dengan tegas membantah isu pertikaian di antara mereka.
“Soal Saifullah Yusuf ya, siapa bilang kita berantem? Saya nggak pernah berantem dengan Saifullah Yusuf sebetulnya ya. Dia ini teman lama. Ini persepsi dari mana? Ini saya kira persepsi dari medsos saja ya,” katanya.
Setelah semua konflik, Gus Yahya berharap semuanya kembali ke kondisi semula. Dia menekankan bahwa tidak pernah ada persoalan pribadi dalam dinamika ini.
“Semuanya harus kembali ke default. Apalagi kalau soal pribadi ini sebetulnya ada ungkapan, nothing personal. Semuanya ini adalah soal, apa namanya, soal bisnis. Nothing personal, ya. Jadi enggak ada masalah pribadi sama sekali ini, dan ketika ada kesepakatan default ya default sudah,” imbuhnya.
Artikel Terkait
Anggota DPRD Pelalawan Diperiksa Polisi Terkait Ijazah Orang Lain
Politisi Mali Divonis Tiga Tahun Penjara di Pantai Gading Atas Tuduhan Hina Presiden
Kasus Hogi Minaya Ditutup, Kejari Sleman: Demi Kepentingan Hukum
Tiga TKA China Jadi Tersangka Pengeroyokan Pekerja Lokal di Tambang Kolaka