Sebelum sumur bor dibangun, Andre sebenarnya sudah membantu dengan memastikan pasokan air darurat. Ia meminta Kementerian PU mengantarkan 27 tangki air per hari ke rumah sakit itu. Upaya itu berjalan hingga kini.
Gubernur Mahyeldi pun menyambut baik langkah cepat pemerintah pusat ini. Ia mengapresiasi Kementerian PU yang turun langsung menangani persoalan infrastruktur pascabencana.
“Kebutuhan air di RSUP M Djamil sangat substansial. Dengan sumur bor ini, kami berharap kebutuhan harian rumah sakit bisa terpenuhi dan layanan kesehatan masyarakat tetap berjalan optimal,” ucap Mahyeldi.
Sementara itu, dari sisi rumah sakit, Bestari Jaka Budiman mengungkapkan betapa krusialnya air bagi operasional sehari-hari. Kebutuhannya mencapai 1.600 meter kubik per hari. Air itu dipakai untuk segala hal, mulai dari kamar operasi, laboratorium, hingga layanan cuci darah atau hemodialisa.
“Kalau air terputus, layanan cuci darah tidak bisa dilakukan. Jadi pembangunan sumur bor ini sangat vital, bukan hanya untuk kondisi bencana, tetapi juga untuk operasional harian rumah sakit,” ungkap Jaka.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas pasokan air yang selama ini dijaga oleh Kementerian PU.
Dengan dimulainya pengeboran ini, harapannya jelas: RSUP M. Djamil punya sistem pasokan air yang jauh lebih aman dan berkelanjutan. Risiko terganggunya layanan medis akibat krisis air pun diharapkan bisa ditekan seminimal mungkin.
“Terima kasih kepada Pak Andre Rosiade, Pak Menteri PU yang telah menghadirkan sumur bor di M Djamil,” tutup Jaka.
Artikel Terkait
Trump Berharap Tak Perlu Gunakan Kekuatan Militer, Iran Malah Siapkan Serangan Instan
Misteri Pelat Dinas Kemhan di Porsche Cayenne: Warisan dari Ayah Bukan Pegawai
Terdakwa Mati Kabur Usai Sidang, Terekam Dibonceng Motor di Lubuk Pakam
Selandia Baru Tolak Undangan Trump untuk Bergabung dengan Dewan Perdamaian