"Bahasanya beliau, kita mulai lagi beraktivitas di PBNU ini dengan normal kembali," kata Prof Nuh, merinci bahwa Sekjen juga kembali kepada Saifullah Yusuf sesuai SK PAW 2024. Semua aktivitas organisasi diharapkan segera berjalan tertib seperti sediakala.
Di sisi lain, rapat juga menyentuh hal-hal teknis yang tak kalah penting. Misalnya, peninjauan kembali seluruh surat keputusan baik PWNU, PCNU, maupun lainnya yang diterbitkan tanpa kelengkapan tanda tangan. Tujuannya jelas: agar tak muncul 'versi-versi' berbeda di tingkat bawah yang justru bisa memicu kebingungan baru.
Soal administrasi, PBNU akan memulihkan Digdaya Persuratan ke kondisi sebelum 23 November 2025. Mereka juga berkomitmen memperbaiki tata kelola digital dan, yang paling utama, meningkatkan transparansi pengelolaan organisasi dan keuangan.
Lalu, bagaimana dengan agenda besar ke depan? Rapat menetapkan Munas dan Konbes NU 2026 akan digelar pada Syawal 1447 H, atau sekitar April 2026 mendatang. Sementara untuk Muktamar ke-35 NU, ditargetkan berlangsung antara Juli atau Agustus di tahun yang sama.
Ada poin lain yang juga dibahas. PBNU akan menindaklanjuti instruksi Rais Aam terkait penyelenggaraan AKN NU. Mereka juga akan meninjau ulang nota kesepahaman (MoU) yang dinilai berpotensi merugikan organisasi. Semua program strategis ke depan wajib mengacu pada Qonun Asasi, AD/ART, dan tentu saja, arahan dari Rais Aam.
Dengan ditutupnya rapat pleno ini, Prof Nuh menyatakan dinamika internal sudah diselesaikan lewat jalur organisasi yang benar. "Alhamdulillah, saat ini polemik, perbedaan pandangan, dan seterusnya, dengan rapat pleno ini kita nyatakan selesai," pungkasnya. Sebuah babak baru pun dimulai.
Artikel Terkait
Trump Berharap Tak Perlu Gunakan Kekuatan Militer, Iran Malah Siapkan Serangan Instan
Misteri Pelat Dinas Kemhan di Porsche Cayenne: Warisan dari Ayah Bukan Pegawai
Terdakwa Mati Kabur Usai Sidang, Terekam Dibonceng Motor di Lubuk Pakam
Selandia Baru Tolak Undangan Trump untuk Bergabung dengan Dewan Perdamaian