Ia tak menampik bahwa kendala lahan sering jadi biang keladi tertundanya proyek nasional, bukan soal anggaran. Karena itu, ia mendorong pemerintah provinsi dan kabupaten untuk bergerak cepat menyelesaikan persoalan pembebasan tanah. "Kalau lahannya sudah siap, tidak ada alasan untuk menunda," imbuhnya.
Proyek sepanjang hampir enam kilometer ini merupakan realisasi instruksi Presiden untuk memperbaiki jalan rusak yang terbentur anggaran. Nilainya sekitar Rp75 miliar, dibangun dengan konstruksi beton. Pilihan beton bukan tanpa alasan; aktivitas angkutan berat, terutama truk galian C, di kawasan itu sangat tinggi. Aspal biasa dikhawatirkan tak akan bertahan lama.
Aspek keselamatan juga jadi perhatian. Atas usulan Bupati Eka Putra, akan dibangun jalur penyelamat untuk mengantisipasi rem blong di titik rawan. Hanya saja, ini perlu koordinasi lebih lanjut karena lahannya melibatkan area milik PT KAI.
Andre Rosiade memastikan akan segera menemui Dirut PT KAI untuk membahas hal ini, sekaligus membicarakan lahan untuk flyover Padang Luar.
Sementara itu, Gubernur Mahyeldi menekankan peran daerah dalam menjaga hasil pembangunan. "Pemerintah provinsi siap mengawal pengaturan tonase dan perizinan agar jalan yang dibangun pemerintah pusat ini tidak cepat rusak," ujarnya.
Ia menambahkan, ini tanggung jawab bersama agar investasi besar itu benar-benar bermanfaat untuk masyarakat.
Ke depan, jalan yang menghubungkan Payakumbuh hingga Batusangkar ini diharapkan bisa memangkas waktu tempuh. Lebih dari itu, ia diandalkan bisa memperkuat konektivitas dan menyulut pertumbuhan ekonomi di kawasan Luhak Nan Tuo dan sekitarnya. Harapannya sih, jalan mulus, ekonomi pun lancar.
Artikel Terkait
Kembali Tergenang, Air di Kebon Pala Capai 90 Cm Usai Siaga Tiga Katulampa
Jokowi Hadiri Rakernas PSI, Partai Siapkan Perang Akar Rumput
Kakak Prabowo Blusukan ke Sekolah Rakyat, Terkesima dengan Bakat Para Siswa
Iran Tegaskan Kendali Penuh di Selat Hormuz, Siap Hadapi Eskalasi AS