Data dari kotak hitam pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung akhirnya berhasil diunduh oleh KNKT. Prosesnya sendiri melibatkan dua komponen krusial: perekam data penerbangan (FDR) dan perekam suara kokpit (CVR).
Menurut keterangan resmi yang dibagikan lewat Instagram, Selasa lalu, hasilnya cukup detail. FDR menyimpan catatan panjang, 171 jam operasi pesawat dengan lebih dari 180 parameter. Sementara itu, dari CVR terungkap rekaman suara di kokpit selama sekitar dua jam.
"Saat ini data yang diperoleh sedang dalam tahap analisis lebih lanjut oleh tim investigasi KNKT sesuai dengan ketentuan investigasi keselamatan yang berlaku,"
Proses pengunduhan ini bukan pekerjaan ringan. KNKT tak bekerja sendirian. Mereka dibantu oleh perwakilan dari BEA Prancis dan juga penasihat teknis dari pabrikan pesawat, ATR. Kolaborasi internasional semacam ini lumrah dalam investigasi kecelakaan udara yang kompleks.
Penerbangan nahas itu, yang berangkat dari Yogyakarta dengan tujuan Makassar, terekam dengan jelas pada kedua perangkat. Sayangnya, semua data itu kini menjadi saksi bisu sebuah tragedi. Kecelakaan di kawasan pegunungan Pangkep itu merenggut sepuluh nyawa: tujuh kru dan tiga penumpang.
Operasi pencarian dan evakuasi sendiri sudah resmi ditutup. Butuh waktu tujuh hari untuk mengevakuasi seluruh korban dari lokasi yang sulit itu. Kini, fokus beralih ke ruang analisis. Apa yang sebenarnya terjadi dalam dua jam terakhir di kokpit pesawat? Jawabannya mungkin tersembunyi dalam data teknis dan percakapan pilot yang baru saja berhasil diambil itu.
Artikel Terkait
Saksi Google Buka Suara di Sidang Korupsi Chromebook Rp 2,1 Triliun
Warga Korea Dideportasi dari Bali Usai Bongkar Garis Pembatas Lahan
Saksi Kunci di Sidang Korupsi Chromebook Klaim Lupa, Jaksa Sampai Angkat Tangan
Fiona Bantah Kuat: Pejabat Tak Takut pada Stafsus di Sidang Korupsi Chromebook