Di tengah kompleksitas Nahdlatul Ulama, organisasi keagamaan terbesar di negeri ini, posisi Rois 'Aam Syuriyah PBNU jelas bukan sekadar jabatan biasa. Lebih dari itu, ia adalah jangkar spiritual sekaligus penjaga marwah jam'iyah. Dan untuk peran yang begitu berat itu, sosok KH Miftachul Akhyar terlihat semakin tepat.
Beliau, yang masih mengemban amanah periode 2021-2026, telah membuktikan diri. Bukan cuma ulama karismatik, Kiai Miftah begitu biasa disapa seolah mewujudkan empat pilar utama seorang Rois 'Aam: berilmu luas, ahli fikih, bersahaja, dan paham betul seluk-beluk organisasi.
Namun begitu, ada hal lain yang mungkin lebih kuat. Kepemimpinan beliau ditandai ketegasan yang disiplin, dan yang tak kalah penting, membawa restu dari para masyayikh sepuh, terutama almarhum KH Maimoen Zubair.
Pertama, soal kedalaman ilmu.
Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya, rihlah ilmiah Kiai Miftachul Akhyar sudah tak diragukan lagi. Pengakuan datang dari banyak ulama sejawat. Ketajaman fikihnya bukan cuma teori. Beliau mampu menerapkannya dalam merespons persoalan kekinian, memastikan kebijakan NU tetap relevan tanpa meninggalkan akar tradisi pesantren.
Kedua, sikap zuhud yang meneduhkan.
Di balik jabatannya yang tinggi pernah juga memimpin MUI Kiai Miftah tetap tampil sederhana. Jauh dari gemerlap duniawi. Sikap bersahaja inilah yang justru membuatnya mudah didekati, mengayomi, dan dianggap tidak arogan. Bagi warga Nahdliyin di akar rumput, ketenangan yang dipancarkannya memberi rasa aman.
Ketiga, paham organisasi dan tegas.
Ini salah satu keunggulannya. Beliau menguasai AD/ART NU dengan baik, dan dikenal disiplin. Ketegasannya bukan main-main. Saat menjabat di berbagai tingkatan, dari cabang hingga pusat, Kiai Miftah kerap menegur pengurus yang dianggap melenceng atau tidak aktif. Prinsipnya jelas: mengurus NU adalah bentuk takdzim kepada para pendirinya, dan disiplin adalah wujudnya.
Puncaknya terlihat belakangan ini. Menurut sejumlah saksi, dalam konflik internal yang memanas, Kiai Miftah mengambil langkah berani. Beliau memimpin proses pemberhentian KH Yahya Cholil Staquf dari jabatan Ketua Umum PBNU dan menetapkan penjabat baru.
Langkah itu diambil setelah serangkaian teguran, terutama terkait tata kelola keuangan dan program akademi kepemimpinan yang dinilai melanggar aturan. Instruksi penghentian sementara Akademi Kepemimpinan Nasional NU pun diterbitkan. Bagi Kiai Miftah, semua ini demi satu hal: menjaga muruah organisasi di mata publik.
Keempat, amanah dari Mbah Moen.
Alasan ini mungkin yang paling menyentuh secara emosional. Almarhum KH Maimoen Zubair, atau Mbah Moen, disebut-sebut secara khusus memproyeksikan Kiai Miftah untuk memimpin NU. Restu dan doa dari kiai sepuh tersebut bukan hal sepele.
"Doa Mbah Moen terkabul,"
begitu kata banyak kiai saat Kiai Miftah terpilih. Ini penegasan bahwa kepemimpinannya bukan sekadar hasil pemungutan suara, melainkan juga pertanggungjawaban atas amanah keilmuan dan perjuangan.
Kelima, totalitas dan keteguhan.
Kiai Miftah dikenal sebagai sosok yang suyukhan dan rosikhan total dalam pengabdian dan kokoh dalam prinsip. Beliau berusaha menyeimbangkan urusan kebangsaan yang pelik dengan pelayanan kepada umat. Pesannya konsisten: NU adalah wadah untuk menata hidup bagi kebaikan bersama, bukan sekadar tempat mencari kehidupan.
Maka, melihat gabungan semua aspek tadi kedalaman ilmu, kesederhanaan hidup, ketegasan, dan restu dari kiai sepuh tampaknya memang tak ada yang lebih layak saat ini. Melanjutkan kepemimpinan KH Miftachul Akhyar bisa jadi langkah penting untuk menjaga stabilitas NU ke depan. Wallahu'alam bishawab.
KH Imam Jazuli, Lc., MA
Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon
Artikel Terkait
Kiandra Ramadhipa Cetak Sejarah, Juarai Red Bull MotoGP Rookies Cup di Jerez dari Posisi ke-17
Israel Bombardir Lebanon Selatan Meski Gencatan Senjata dengan Hizbullah Masih Berlaku
ASG Expo 2026 Resmi Ditutup, PIK Dikembangkan Jadi Destinasi Wisata dan Pusat Gaya Hidup
Trump: Pelaku Penembakan di Gala Dinner Gedung Putih Bikin Manifesto Penuh Kebencian terhadap Umat Kristen