Prabowo di Davos: Kesejahteraan Rakyat Kunci Perdamaian Global

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:10 WIB
Prabowo di Davos: Kesejahteraan Rakyat Kunci Perdamaian Global

Di tengah hiruk-pikuk diskusi geopolitik di Davos, Presiden Prabowo Subianto justru membawa pesan yang berbeda. Ia menegaskan, jalan menuju perdamaian dunia harus dimulai dari rumah sendiri: dengan membangun kesejahteraan rakyat yang adil. Caranya? Lewat pemerintahan bersih, ekonomi yang terbuka, dan tentu saja, peran aktif di panggung global.

Pidato kuncinya di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 itu disampaikan Kamis lalu. Gagasan itu langsung mendapat sorotan.

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, melihat pidato tersebut membawa relevansi yang kuat. Baginya, inti dari pesan itu konsisten dengan prinsip "no one is left behind" – tidak ada seorang pun yang boleh tertinggal dalam pembangunan.

"Ketika pemimpin dunia bicara tentang dinamika geopolitik dan potensi konflik yang meluas, Presiden Prabowo justru menyadarkan bahwa perdamaian justru lahir dari kemakmuran dan keadilan," ujar Eddy, Sabtu (24/1).

"Semuanya dimulai dengan hadirnya negara untuk memenuhi kebutuhan rakyat."

Lebih lanjut, Eddy menjelaskan bahwa komitmen "no one is left behind" itu bukan sekadar slogan. Itu adalah janji agar seluruh lapisan masyarakat merasakan dampak kemajuan ekonomi.

Gagasan yang kerap disebut Prabowonomics ini, menurutnya, relevan bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk upaya mewujudkan keadilan global.

"Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, kesejahteraan rakyat harus tetap menjadi prioritas utama," tegasnya.

"Model pembangunan yang inklusif dalam Prabowonomics ini menjadi inspirasi kebijakan yang berpihak sepenuhnya pada kepentingan masyarakat luas."

Eddy juga menyebutkan bukti konkretnya: Program MBG yang telah menjangkau puluhan juta warga. "Itu menjadi bukti kehadiran negara," imbuhnya, sambil mengakui bahwa tentu saja perbaikan implementasi tetap harus terus dilakukan.

Sebagai Waketum PAN, Eddy menekankan satu hal. Pesan "no one is left behind" di forum bergengsi seperti WEF itu sebenarnya adalah cerminan strategi luar negeri Indonesia. Sebuah strategi yang berusaha seimbang: aktif berkarya di dunia global, tapi tanpa melupakan perlindungan terhadap rakyatnya sendiri.

"Kemakmuran, perdamaian dan keadilan adalah hak setiap warga dunia," pungkasnya.

"Pidato Presiden di Davos menunjukkan bahwa bagi Indonesia, pertumbuhan ekonomi dan masa depan yang adil bagi setiap warga negara punya bobot yang sama pentingnya."

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar