Hari Minggu lalu, 28 Januari 2026, kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, masih terendam. Di tengah genangan air itu, ada kisah yang bikin haru. Sebuah resepsi pernikahan nyaris batal. Pasangan pengantinnya, Ela Laela dan Muhadi, harus berjuang melawan banjir demi bisa naik ke pelaminan di RW 16 Pedongkelan, Kelurahan Kapuk.
Persiapan sudah matang sejak lama. Tapi pagi itu, air masih menggenang hampir setinggi lutut. Ela sempat menyerah. Rasanya, semua usaha sia-sia.
"Semua masakan udah siap itu, tapi saya akhirnya tidur aja," kenang Ela.
"Tukang rias bangunin saya enggak mau. Saya bilang buang aja."
Nyaris Menyerah Sebelum Dimulai
Putus asa itu nyata. Ela menangis, membayangkan tamu undangan pasti tak ada yang datang. Situasi banjir begitu parah, mana mungkin orang-orang mau menerobos air untuk menghadiri pesta.
"Dari awal emang udah niat segala sesuatunya, tapi pas itu banjir saya putus asa, sampai nangis semua," ujarnya.
"Saya sama bapak saya, sampai saya enggak yakin kayanya enggak bakal ada tamu."
Di titik terendah itu, sang ayah muncul sebagai penyemangat. Dialah yang membujuk dan menguatkan hati Ela untuk tetap maju. Perlahan, niat itu kembali tumbuh.
"Akhirnya Bapak saya mendukung, nguatin semuanya, termasuk tukang masak akhirnya bisa, alhamdulillah surut," kata Ela.
Gendongan Penuh Makna
Dan resepsi pun digelar. Meski lokasi masih basah dan becek, semangat mereka tak lagi surut. Adegan paling memorable? Saat Muhadi dengan penuh perhatian menggendong istrinya menuju panggung pelaminan. Agar gaun pengantin tak basah, agar langkah pertama mereka sebagai suami istri tetap istimewa.
Lambat laun, keresahan Ela pun hilang. Menjelang siang, air mulai surut. Yang lebih menghangatkan hati, tamu undangan justru berdatangan satu per satu.
"Terharu, gembira. Semua pada datang," pungkas Ela, sumringah.
"Dukungan semua keluarga, saudara saya dari Pandeglang, yang jauh-jauh pada datang. Alhamdulillah bersyukur sama yang kuasa. Sama keluarga saya, sama Bapak saya bersyukur."
Di antara lumpur dan genangan, sebuah perayaan cinta berhasil mereka wujudkan. Lebih dari sekadar pesta, ini tentang keteguhan hati dan dukungan keluarga yang tak lekang oleh banjir.
Artikel Terkait
Gubernur Banten Ambil Alih Perbaikan Jalan Desa yang Rusak Puluhan Tahun di Pandeglang
Menteri HAM: Tiga Anak Korban Penembakan Papua Tengah Jalani Perawatan Intensif
PM Anwar dan PM Singapura Bahas Percepatan ASEAN Power Grid dan Situasi Timur Tengah
Lebanon Catat 2.387 Tewas Akibat Serangan Israel Sejak Maret