Sudah beberapa pekan berlalu, namun kabar duka dari Iran masih samar-samar. Sulit sekali mendapatkan angka pasti korban tewas dalam gelombang unjuk rasa antipemerintah yang mengguncang negara itu. Blokir internet dan matinya saluran komunikasi membuat situasi semakin gelap.
Di tengah kesimpangsiuran ini, seorang pejabat pemerintah Iran yang memilih untuk tidak disebut namanya memberikan pernyataan mengejutkan. Menurutnya, sedikitnya 5.000 orang telah kehilangan nyawa.
“Data ini sudah terverifikasi,” ujar pejabat itu, seperti dikutip Reuters, Senin lalu.
Dia lalu menuding para “teroris dan perusuh bersenjata” sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tewasnya “warga-warga Iran yang tidak bersalah”. Klaimnya tentu saja punya narasi sendiri.
Unjuk rasa ini awalnya menyala karena kekecewaan publik terhadap kesulitan ekonomi yang mencekik. Bermula pada 28 Desember tahun lalu, aksi protes dengan cepat meluas hanya dalam dua minggu. Tuntutannya pun berubah, tak lagi sekadar soal roti, tetapi menyerukan perubahan sistem akhir dari pemerintahan ulama di Teheran.
Artikel Terkait
ESG di Indonesia: Antara Komitmen Nyata dan Kelelahan akan Jargon
MKMK Nyatakan Tak Berwenang Periksa Laporan Etik Terhadap Hakim Adies Kadir
Sewa Mobil Jadi Solusi Utama Jelajahi Bali dengan Fleksibel
Komnas Perempuan Desak DPR Segera Sahkan RUU Perlindungan PRT