Tim SAR Bersiap Hadang Cuaca untuk Evakuasi Korban dan Serpihan Pesawat di Gunung Bulusaraung

- Senin, 19 Januari 2026 | 01:15 WIB
Tim SAR Bersiap Hadang Cuaca untuk Evakuasi Korban dan Serpihan Pesawat di Gunung Bulusaraung

Operasi pencarian dan evakuasi untuk pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung akan dilanjutkan Senin pagi. Cuaca, sekali lagi, menjadi penentu utama. Menurut rencana, tim akan mencoba dua jalur: udara dan darat, tergantung bagaimana kondisi alam di kawasan perbatasan Kabupaten Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan itu nanti.

Kepala Basarnas Mohammad Syafii menjelaskan detailnya. Dari udara, helikopter Caracal akan berusaha mendarat di puncak. Jika itu sulit, mereka punya cadangan metode hoist, alias menurunkan dan menarik personel serta korban langsung dari helikopter.

"Tapi kalau cuaca lagi tidak bersahabat, ya kita turun ke opsi darat," ujar Syafii di Kantor Basarnas Makassar, Minggu kemarin.

Evakuasi darat akan digarap oleh tim SAR gabungan yang sudah disiagakan.

Nah, yang mau dievakuasi bukan cuma jenazah para korban yang sudah ditemukan. Menurut Syafii, bagian-bagian tertentu dari badan pesawat juga akan diangkat. Ini penting buat penyelidikan KNKT kelak.

"Evakuasi dilakukan tidak hanya terhadap penumpang, tetapi juga terhadap 'body part' pesawat yang diperlukan untuk kepentingan investigasi," tambahnya.

Sayangnya, sampai hari Minggu kemarin, proses evakuasi belum bisa jalan maksimal. Medannya ekstrem, ditambah cuaca buruk yang terus menggulung puncak gunung.

Muhammad Arif Anwar, Kepala Basarnas Makassar yang jadi koordinator misi, bilang tim terpaksa bertahan di lokasi. Mereka mendirikan tenda di dekat tempat korban ditemukan, sambil terus waspada.

"Evakuasi belum bisa dilakukan karena hujan, angin kencang, serta kabut tebal," katanya. "Semua itu membatasi jarak pandang dan tentu saja membahayakan keselamatan personel di lapangan."

Untuk sementara, tim fokus pada pengamanan lokasi dan identifikasi awal. Mereka menunggu jeda dari alam. Rencana besok sudah disiapkan matang, tinggal eksekusi.

Operasi besar-besaran ini melibatkan ribuan personel. Gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, pemda, plus relawan. Mereka didukung peralatan lengkap, dari darat sampai udara, dengan teknologi komunikasi khusus untuk medan terpencil.

Pemantauan cuaca akan dilakukan ketat. Keselamatan tim di lapangan jadi prioritas nomor satu. Di gunung itu, masih tersisa serpihan pesawat dan jenazah korban yang belum seluruhnya teridentifikasi.

Pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) itu hilang kontak Sabtu siang, tepatnya saat hendak mendarat di Bandara Hasanuddin. Di dalamnya ada sepuluh orang.

Tujuh di antaranya adalah kru pesawat, dengan Pilot Captain Andi Dahananto memimpin kokpit.

Sedangkan tiga penumpang lainnya adalah pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan. Mereka adalah Ferry Irawan (Analis Kapal Pengawas), Deden Mulyana (Pengelola Barang Milik Negara), dan Yoga Naufal (Operator Foto Udara).

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar