Sembunyi di Bawah Tanah: Rongga Karst dan Ancaman Lubang Runtuhan

- Jumat, 16 Januari 2026 | 19:15 WIB
Sembunyi di Bawah Tanah: Rongga Karst dan Ancaman Lubang Runtuhan

Kemunculan lubang runtuhan tanah atau sinkhole di sejumlah daerah kembali mengingatkan kita pada fenomena alam yang kerap luput dari perhatian. Adrin Tohari, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, menegaskan bahwa kejadian seperti ini memang kerap terjadi di wilayah dengan lapisan batugamping di bawahnya. Intinya, masyarakat perlu tetap waspada.

Lalu, bagaimana sebenarnya sinkhole itu terbentuk? Menurut Adrin, prosesnya berlangsung lambat, bisa bertahun-tahun. Pemicu utamanya adalah air hujan. Namun begitu, air hujan ini bukan air biasa. Ia bersifat agak asam karena menyerap karbon dioksida dari udara dan tanah.

"Air hujan ini meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping, sehingga membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan,"

jelas Adrin dalam sebuah keterangan tertulis BRIN, Jumat lalu.

Nah, rongga itu makin lama makin besar. Air permukaan dan air tanah yang terus mengalir melemahkan struktur penyangga di atasnya. Bayangkan seperti atap sebuah gua yang semakin tipis. Saat hujan lebat datang, beban di atasnya jadi terlalu berat. Akhirnya, lapisan itu ambruk secara tiba-tiba. Jadilah lubang menganga di permukaan yang kita sebut sinkhole.

Di Indonesia, fenomena ini relatif sering ditemui. Daerah-daerah dengan bentang alam karst seperti Gunung Kidul, Pacitan, atau Maros termasuk yang rawan. Secara geologi, wilayah-wilayah itu punya lapisan batugamping tebal di bawah kaki kita.

Di sisi lain, tantangan terbesarnya adalah mendeteksi kemunculannya sejak dini. Soalnya, semua proses pembentukan rongga terjadi di bawah tanah, tersembunyi dari pandangan. Tapi bukan berarti tidak bisa diidentifikasi. Adrin menyebut, survei geofisika adalah kuncinya.

"Metode seperti gaya berat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah. Metode ini memberikan gambaran citra kondisi bawah permukaan sehingga potensi sinkhole bisa diantisipasi lebih dini,"

paparnya.

Isu ini kembali aktual setelah sebuah sinkhole muncul di kawasan pertanian Pombatan, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Menanggapi kejadian itu, Badan Geologi Kementerian ESDM langsung turun tangan. Mereka mengirimkan tim ahli ke lokasi untuk melakukan kajian mendalam.

Tim yang tiba pada suatu Sabtu di awal Januari itu didampingi oleh pejabat BPBD setempat dan anggota DPRD. Taufik Wirabuana, perwakilan dari tim Badan Geologi, menyampaikan fokus kunjungan mereka.

"Kami baru datang, agenda kami fokus pengambilan data dan pemeriksaan data terhadap fenomena sinkhole di sini,"

katanya. Langkah ini diharapkan bisa memberikan pemahaman lebih jelas untuk mengantisipasi risiko serupa di masa depan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar