Kemunculan lubang runtuhan tanah atau sinkhole di sejumlah daerah kembali mengingatkan kita pada fenomena alam yang kerap luput dari perhatian. Adrin Tohari, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, menegaskan bahwa kejadian seperti ini memang kerap terjadi di wilayah dengan lapisan batugamping di bawahnya. Intinya, masyarakat perlu tetap waspada.
Lalu, bagaimana sebenarnya sinkhole itu terbentuk? Menurut Adrin, prosesnya berlangsung lambat, bisa bertahun-tahun. Pemicu utamanya adalah air hujan. Namun begitu, air hujan ini bukan air biasa. Ia bersifat agak asam karena menyerap karbon dioksida dari udara dan tanah.
jelas Adrin dalam sebuah keterangan tertulis BRIN, Jumat lalu.
Nah, rongga itu makin lama makin besar. Air permukaan dan air tanah yang terus mengalir melemahkan struktur penyangga di atasnya. Bayangkan seperti atap sebuah gua yang semakin tipis. Saat hujan lebat datang, beban di atasnya jadi terlalu berat. Akhirnya, lapisan itu ambruk secara tiba-tiba. Jadilah lubang menganga di permukaan yang kita sebut sinkhole.
Di Indonesia, fenomena ini relatif sering ditemui. Daerah-daerah dengan bentang alam karst seperti Gunung Kidul, Pacitan, atau Maros termasuk yang rawan. Secara geologi, wilayah-wilayah itu punya lapisan batugamping tebal di bawah kaki kita.
Artikel Terkait
Akses Utama Pulih, Perjuangan ke Pelosok Masih Panjang
Netanyahu dan Sekutu Arab Desak AS Tahan Serangan ke Iran
Waspada, Air di Lubang Runtuhan Tanah Bisa Mengandung Bahaya Tersembunyi
Normalisasi Lalu Lintas, Jalan Raya Puncak Kembali Dua Arah