Sementara itu, tiang-tiang lain masih tegak berdiri. Sebagai penanda, bagian bawahnya sudah dibalut garis peringatan hitam-kuning.
Lalu, bagaimana cara membongkar 108 tiang sisanya tanpa bikin macet parah? Jawabannya: kerja malam. Kepala Dinas Perhubungan DKI, Syafrin Liputo, membeberkan strateginya.
“Karena kepadatan lalu lintas di Jakarta itu bahkan sampai jam 22.00 malam, window time-nya kami tetapkan dari jam 23.00 sampai dengan pukul 05.00,” jelas Syafrin.
Skemanya satu tiang per malam. Yang penting, tidak ada penutupan jalan total. Hanya lajur lambat di titik pekerjaan yang ditutup secara bertahap.
“Tidak ada penutupan jalan. Penutupan hanya di lajur lambat dan dilakukan staging. Arus dari lajur cepat tetap bisa masuk ke lajur lambat,” ungkapnya.
Untuk mengawasi situasi, Dishub dan Satpol PP akan menyiagakan sekitar 30 personel setiap malam. Tugas mereka mengatur arus lalu lintas dan mengamankan lokasi proyek. Perlahan, simbol kegagalan transportasi masa lalu itu pun akan satu per satu menghilang dari langit Jakarta.
Artikel Terkait
Kapolri Sorot Dampak Ekonomi dari Operasi Ketupat 2026
Metro TV Siarkan Program Ramadan dan Berita 24 Jam pada Selasa, 3 Maret 2026
Wakil Ketua MPR Peringatkan Ketegangan Selat Hormuz Ancam Stabilitas Harga Minyak Indonesia
Golkar Desak PBB Ambil Langkah Konkret Hentikan Perang di Timur Tengah