Era Emas Pekerja Eropa Berakhir, Pasar Tenaga Kerja Mulai Mendingin

- Rabu, 14 Januari 2026 | 14:05 WIB
Era Emas Pekerja Eropa Berakhir, Pasar Tenaga Kerja Mulai Mendingin

Ingat masa pandemi? Saat itu, posisi pekerja di Eropa terasa begitu kuat. Mereka punya daya tawar yang langka. Perusahaan berusaha mempertahankan staf dengan pesangon menggiurkan atau skema pengurangan jam kerja seperti sistem paruh waktu di Jerman. Kerja jarak jauh pun jadi hal biasa, ke kantor tak lagi wajib.

Namun begitu, suasana itu kini berubah. Gelombang yang dulu disebut Great Resignation gelombang pengunduran diri massal perlahan mereda. Kekurangan tenaga kerja global yang sempat mendongkrak permintaan akan talenta, mulai berkurang tekanannya. Fenomena quiet quitting, di mana karyawan memilih untuk tak bekerja melebihi porsinya demi hidup seimbang, mungkin masih ada. Tapi kekhawatiran baru telah muncul.

Angelika Reich dari firma rekrutmen Spencer Stuart menyoroti sebuah angka yang mencolok.

"Sebanyak sepertiga pekerja Eropa sempat mempertimbangkan untuk keluar dalam waktu tiga hingga enam bulan. Itu angka yang tinggi untuk wilayah yang biasanya punya tingkat pergantian staf rendah," katanya, merujuk pada penelitian McKinsey tahun 2022.

Momentum yang Meredup

Kini, pasar tenaga kerja Eropa terasa 'mendingin'. Begitu kata Reich. Lowongan pekerjaan berkurang, kondisi ekonomi lebih menantang, dan karyawan pun jadi lebih hati-hati untuk berpindah tempat. Pertumbuhan upah melambat. Ancaman AI yang bisa menggantikan peran manusia membuat momen keemasan pekerja itu berlalu dengan cepat.

Proyeksi Bank Sentral Eropa (ECB) memperkuat gambaran ini. Pasar kerja zona euro tahun ini diperkirakan hanya tumbuh 0,6%, sedikit lebih lambat dari 0,7% di 2025. Memang, selisih 0,1 poin persentase terdengar kecil. Tapi dalam hitungan nyata, itu berarti sekitar 163.000 lapangan kerja baru yang tak tercipta. Bandingkan dengan tiga tahun lalu, saat zona euro bisa menambah 2,76 juta pekerjaan berkat pertumbuhan kuat 1,7%.

Migrasi sempat menjadi penyelamat, mengisi kekurangan pekerja yang akut. Tapi arus migrasi bersih ini sekarang mulai stabil, bahkan cenderung menurun di beberapa tempat.

Jerman: Cermin Masalah yang Lebih Luas

Situasi di Jerman bisa jadi patokan. Lebih dari sepertiga perusahaan di sana berencana memangkas pekerjaan tahun ini, menurut lembaga pemikir IW di Köln. Basis industrinya otomotif, mesin, logam, tekstil menanggung beban terberat. Biaya energi melonjak, permintaan ekspor lesu, ditambah persaingan ketat dari luar, telah menghapus lebih dari 120.000 posisi.

Tekanan serupa merambat ke Prancis, Italia, dan Polandia. Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) zona euro terjun ke 48,8 pada Desember, level terendah dalam sembilan bulan. Angka di bawah 50 menandakan kontraksi.

Di Prancis, bank sentral memperkirakan pengangguran naik jadi 7,8%. Di Inggris, dua pertiga ekonom yang disurvei The Times memprediksi kenaikan dari 5,1% menjadi 5,5%. Polandia, yang sempat jadi kekuatan ekonomi baru Uni Eropa, juga mencatat kenaikan pengangguran menjadi 5,6% pada November.

Lembutnya pasar kerja melahirkan istilah baru. Ada Great Hesitation, saat perusahaan dan pekerja sama-sama ragu. Perusahaan berpikir dua kali untuk rekrut, pekerja enggan meninggalkan posisi yang ada. Lalu Career Cushioning, yaitu menyiapkan rencana cadangan diam-diam untuk jaga-jaga dari PHK.

Namun, Tak Semuanya Suram

Di tengah awan kelabu, masih ada titik terang. Spanyol, yang diuntungkan lonjakan pariwisata pasca-COVID, diproyeksi mengalami pertumbuhan pekerjaan kuat tahun ini. Begitu juga Luksemburg, Irlandia, Kroasia, Portugal, dan Yunani.

Julian Stahl, pakar dari platform perekrutan XING, memberi catatan.

"Kelangkaan pekerja yang dulu terasa luas, sekarang jadi lebih spesifik per sektor," ujarnya. "Masih ada kekurangan serius di ritel, kesehatan, logistik, teknik, dan peran-peran yang sangat spesialis."

Artinya, perekrutan belum benar-benar berhenti. Hanya fokusnya yang berubah.

Ancaman dan Transformasi Bernama AI

Di atas semua itu, ada satu 'guncangan' yang terus menggema: kecerdasan buatan. Eropa mungkin tertinggal dari AS dan Cina dalam adopsi AI, tapi kekhawatiran karyawan tak kalah besar. Studi Ernst & Young (EY) Juli lalu menemukan, seperempat pekerja Eropa khawatir AI ancam pekerjaan mereka. Bahkan 74% percaya perusahaan akan butuh lebih sedikit karyawan karena teknologi ini.

Institute for Employment Research (IAB) di Nürnberg memperkirakan 1,6 juta pekerjaan di Jerman bisa berubah atau hilang karena AI pada 2040. Posisi dengan keterampilan tinggi justru paling terdampak, meski sektor teknologi diperkirakan ciptakan sekitar 110.000 pekerjaan baru.

Enzo Weber dari IAB mencoba menenangkan.

"Ini akan membawa transformasi besar di pasar tenaga kerja, bukan pengurangan total pekerjaan," tegasnya.

John Springford dari Centre for European Reform melihat sisi positif.

"Banyak tugas rutin bisa dialihkan ke AI, sehingga tenaga manusia bisa fokus pada hal yang lebih produktif. Ada alasan kuat untuk percaya pekerjaan profesional dan berbasis pengetahuan tak akan menyusut," paparnya.

Bagi banyak pekerja, kemajuan AI ini bisa jadi momen pencerahan yang mendadak seperti yang digambarkan Anthony Klotz, pencetus istilah Great Resignation, dalam bukunya. Momen itu bisa menjadi katalis, mendorong mereka untuk bergerak lebih dini, sebelum otomatisasi benar-benar mengubah segalanya.

Jadi, pasar tenaga kerja Eropa memang sedang mencari keseimbangan baru. Di antara desakan efisiensi, terpaan krisis industri, dan bayang-bayang transformasi digital, pekerja dan perusahaan sama-sama berusaha bertahan dan mencari cara untuk tetap relevan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar