Said Iqbal membandingkan dengan kota-kota lain di Asia. “Jakarta ini biaya hidupnya sangat mahal, bahkan lebih mahal dari Kuala Lumpur, Bangkok, atau Beijing berdasarkan riset internasional. Tapi upah minimum buruhnya justru rendah, cuma sekitar Rp 5,73 juta. Ironis, kan?” katanya.
Selain UMP, buruh juga menuntut agar Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) DKI Jakarta 2026 ditetapkan minimal 5 persen di atas 100 persen Kebutuhan Hidup Layak (KHL).
Tuntutan ketiga lebih bersifat nasional. Mereka mendesak DPR RI segera membahas dan mengesahkan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru, sesuai amanat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168 Tahun 2024.
“Tuntutan utama aksi 15 Januari adalah desakan kepada DPR RI agar segera membahas dan mengesahkan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru,” tegas Said.
Terakhir, aksi ini juga menyuarakan penolakan terhadap wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Bagi mereka, pilkada harus tetap langsung.
“KSPI dan Partai Buruh dengan tegas menolak rencana pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Pilkada harus dipilih langsung oleh rakyat. Penolakan ini berangkat dari pengalaman konkret buruh,” pungkas Said Iqbal.
Jadi, besok pagi sampai siang, siap-siap saja dengan kemacetan ekstra di sekitar lokasi demo. Polisi bilang akan mengatur lalu lintas sesuai situasi, tapi yang pasti, suara ribuan buruh itu pasti akan kembali menggema.
Artikel Terkait
Malam Ini, Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Akhirnya Dibongkar
Setelah 22 Tahun Mangkrak, Tiang Monorel Rasuna Said Akhirnya Runtuh
AS Cap Tiga Cabang Ikhwanul Muslimin di Timur Tengah Sebagai Teroris
Setelah 22 Tahun Mangkrak, 109 Tiang Monorel Rasuna Said Akhirnya Dibongkar