Gencatan Senjata Gaza: Seratus Nyawa Anak Terenggut di Tengah Gencatan

- Rabu, 14 Januari 2026 | 05:05 WIB
Gencatan Senjata Gaza: Seratus Nyawa Anak Terenggut di Tengah Gencatan

Laporan terbaru dari PBB menyisakan duka yang dalam. Di tengah situasi yang disebut sebagai gencatan senjata, nyawa anak-anak di Gaza terus melayang. Fakta yang pahit ini disampaikan langsung oleh UNICEF, badan PBB yang fokus pada perlindungan anak.

Menurut keterangan yang diberikan di Jenewa, angka korbannya tak main-main. Setidaknya seratus anak terdiri dari sekitar 60 anak laki-laki dan 40 perempuan telah tewas di wilayah Palestina yang diduduki itu. James Elder, juru bicara UNICEF, tak bisa menyembunyikan kepedihannya saat menyampaikan data ini kepada para wartawan.

"Lebih dari 100 anak telah tewas di Gaza sejak gencatan senjata," ujarnya.
"Itu kira-kira satu anak perempuan atau satu anak laki-laki tewas di sini setiap hari selama gencatan senjata."

Elder dengan tegas menyebut pihak yang bertanggung jawab: aksi militer Israel. Kematian mereka, katanya, datang dari berbagai arah. Bukan cuma dari serangan udara konvensional, tapi juga dari pesawat tak berawak yang meluncur dari langit Gaza, tembakan tank, hingga helikopter tempur.

"Anak-anak ini tewas akibat serangan udara, serangan pesawat tak berawak, termasuk pesawat tak berawak bunuh diri. Mereka tewas akibat tembakan tank. Mereka tewas akibat peluru tajam. Mereka tewas akibat helikopter tempur," papar Elder, merinci setiap penyebab dengan nada yang berat.

Ia bahkan meyakini angka sebenarnya mungkin lebih tinggi. "Kita sudah mencapai 100 tidak diragukan lagi," tandasnya. Situasi ini lalu memunculkan pertanyaan besar tentang esensi dari gencatan senjata itu sendiri. Apa gunanya sebuah jeda jika korban sipil, terutama yang paling rentan, masih terus berjatuhan?

"Gencatan senjata yang memperlambat pengeboman adalah kemajuan, tetapi gencatan senjata yang masih mengubur anak-anak tidaklah cukup,"

Pernyataan terakhir Elder itu seperti gong yang menghentak. Sebuah kritik pedas yang menggambarkan betapa situasi di lapangan masih jauh dari kata aman, dan perlindungan bagi anak-anak tampaknya belum menjadi prioritas.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar