Bau tak sedap dan tumpukan sampah yang kian menggunung di sekitar Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, akhirnya memicu aksi tanggap. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta turun tangan dengan mengerahkan 25 armada tambahan untuk mengatasi masalah yang sudah mengganggu warga ini. Targetnya, pekan depan semua sampah itu sudah raib.
Julius Monangta, Kepala Sudin LH Jakarta Timur, buka suara. Menurutnya, sebenarnya penanganan sampah di pasar itu berjalan rutin setiap hari. Namun begitu, ada masa-masa tertentu yang bikin kewalahan. “Saat musim buah tiba, volume sampah melonjak drastis,” ujarnya.
Monangta membeberkan angka-angka yang cukup mencengangkan. Kapasitas normal penanganan cuma sekitar 160 ton per hari. Nah, di musim puncak, timbulan sampah bisa menembus angka 220 ton. “Artinya, ada ‘tabungan’ sampah sekitar 60 ton yang menumpuk setiap harinya. Ya numpuklah jadinya,” kata Monangta dalam keterangannya, Jumat (9/1/2026).
Dia berharap pekerjaan bersih-bersih ekstra ini bisa kelar dalam lima hari. Caranya? Armada pengangkut dipacu untuk bolak-balik dua kali sehari menuju TPST Bantargebang. Semua demi mengurai gunungan yang sudah ada.
“Kami kerahkan 23 pengemudi, dua operator alat berat, plus empat pengawas lapangan. Untuk kendaraan, ada 13 dump truck, 10 tronton, dan dua shovel loader. Semua dikerahkan biar proses pemindahan sampah di area pasar bisa lebih cepat,” jelasnya.
Di sisi lain, Monangta menegaskan soal aturan. Berdasarkan Perda dan Pergub yang berlaku, kawasan komersial seperti pasar wajib mengelola sampahnya sendiri, baik secara internal atau lewat kerja sama dengan pihak ketiga. Untuk Pasar Induk Kramat Jati, tanggung jawab itu ada di pundak Perumda Pasar Jaya.
“Intervensi kami saat ini sifatnya perbantuan, mengingat ini fasilitas publik yang strategis. Tapi, kewajiban utama tetaplah ada pada pengelola pasar,” imbuhnya tegas.
Keluhan warga sendiri sudah lama mengemuka. Bau busuk yang menyengat jadi masalah harian. Mereka cuma berharap tumpukan itu segera diangkut.
“Wah sudah lama sekali. Tahunan, bukan bulan. Kalau sudah dibersihkan ya tidak bau. Tapi kalau numpuk lagi, ya bau lagi,” keluh Roni, salah seorang warga RT 03/RW 04 Kelurahan Tengah, Kramat Jati, seperti dilansir Antara, Kamis (8/1).
Roni menambahkan, bau menyengat biasanya makin jadi-jadian saat sampah dibongkar atau ketika hujan turun. Memang, dalam beberapa pekan terakhir, gunungan di kawasan pasar itu terlihat makin tinggi dan mencemaskan.
Artikel Terkait
KPK Geledah Empat Lokasi di Muara Enim Terkait Dugaan Suap Pengadaan Barang dan Jasa 2025-2026
Korban Perundungan di Taman Kramat Mulai Pulih, Trauma Psikologis Masih Membayangi
Kesehatan Mental Pengusaha Jadi Kunci Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi
Chad Dinobatkan sebagai Negara dengan Tingkat Kemarahan Tertinggi di Dunia Versi Gallup 2024