Bagi Bambang Soesatyo, atau yang akrab disapa Bamsoet, capaian swasembada beras tahun ini bukan sekadar angka. Anggota DPR dari Golkar itu memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Menurutnya, ini adalah tonggak sejarah ketahanan pangan kita. "Bukti nyata bahwa keseriusan politik bisa membuahkan hasil konkret, dan dalam waktu yang relatif singkat," ujarnya.
Dengan ini, Indonesia tercatat telah tiga kali meraih status swasembada beras. Pertama kali tentu saja di era Presiden Soeharto, tepatnya tahun 1984. Saat itu, produksi kita menyentuh 27 juta ton, mengalahkan konsumsi nasional yang 25 juta ton. Prestasi itu bahkan diakui dunia melalui penghargaan dari FAO setahun kemudian.
Lalu, setelah jeda panjang 24 tahun, kita kembali swasembada di tahun 2008 di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan kini, setelah 17 tahun berlalu, giliran era Prabowo Subianto yang mencatatkan namanya.
Pengumuman resminya sendiri disampaikan langsung oleh Presiden di Karawang, Jawa Barat, awal Januari lalu. Produksi beras nasional sepanjang 2025 diproyeksikan mencapai angka fantastis: sekitar 34,7 juta ton. Jauh di atas kebutuhan kita yang berkisar 30-31 juta ton per tahun. Artinya, untuk pertama kalinya dalam kurun waktu lama, Indonesia punya surplus yang cukup signifikan.
"Swasembada beras tahun 2025 patut dimaknai sebagai prestasi luar biasa," kata Bamsoet dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/1/2026).
Menurut Wakil Ketua Umum Golkar ini, capaian itu istimewa karena diraih di tengah segudang tantangan. Mulai dari alih fungsi lahan yang masif, tekanan perubahan iklim yang mengacaukan pola tanam, hingga gejolak harga pangan global. Semua itu adalah rintangan nyata yang dihadapi sektor pertanian kita.
Yang menarik, target swasembada pangan sebenarnya dicanangkan Prabowo untuk dicapai dalam empat tahun kepemimpinannya. Namun faktanya, hanya dalam setahun, target untuk beras sudah terpenuhi. Bamsoet menilai ini adalah bukti eksekusi yang fokus dan disiplin.
"Ini menunjukkan bahwa dengan kepemimpinan yang fokus dan eksekusi yang disiplin, agenda strategi nasional dapat dipercepat," ujarnya dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Kamis (8/1).
Namun begitu, Bamsoet mengingatkan, prestasi di tingkat produksi ini jangan sampai berhenti di situ. Jangan cuma jadi angka statistik yang membanggakan. Nilai tambah yang paling ditunggu rakyat adalah harga beras yang stabil dan terjangkau.
"Harapan masyarakat sangat sederhana. Ketika beras berlimpah, harga di pasar harus masuk akal, tidak membebani rumah tangga, terutama masyarakat ekonomi rendah," tegasnya.
Ia pun mendorong pemerintah untuk segera merumuskan langkah lanjutan. Penguatan cadangan beras pemerintah, optimalisasi peran Bulog, dan pengawasan ketat di rantai distribusi menjadi kunci. Tujuannya satu: agar surplus itu benar-benar terasa di meja makan rakyat.
Di sisi lain, pengamanan pasar juga harus serius. Bamsoet meminta Satgas Pangan dan aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap praktik curang. Mulai dari penimbunan, pengoplosan beras, sampai manipulasi harga di tingkat distributor.
"Manipulasi timbangan dan pengoplosan beras adalah kejahatan terhadap masyarakat. Setelah swasembada tercapai, jangan sampai konsumen kembali dirugikan oleh ulah oknum pedagang yang mencari keuntungan dengan cara curang," tuturnya dengan nada tegas.
Pada akhirnya, momentum swasembada ini harus bisa membangun kepercayaan publik. Negara tak hanya wajib memastikan produksi cukup, tapi juga menjamin keadilan di pasar dan melindungi konsumen.
"Jika produksi kuat, terdistribusi secara tertib, dan harga terkendali, maka swasembada beras akan benar-benar menjadi fondasi kokoh bagi ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan rakyat," pungkas Bamsoet.
Artikel Terkait
SBY Peringatkan Ancaman Perang Dunia di Tengah Geopolitik Global yang Memanas
KIP Putuskan Hasil TWK KPK Harus Dibuka untuk Publik
Sopir Tertidur Diduga Jadi Penyebab Tabrakan Maut Dua Bus TransJakarta
Jordi Amat Tegaskan Persija Hanya Incar Tiga Poin Lawan Malut United