Di sisi lain, ada juga upaya untuk meredam keraguan. Menteri Luar Negeri Marco Rubio, misalnya, merasa perlu menegaskan posisi AS di tengah kritik dari sejumlah anggota parlemen. Setelah bertemu dengan para wakil rakyat di Capitol Hill, dia bersikeras bahwa semua ini bukan aksi tanpa rencana.
"Intinya adalah, kami telah membahas perencanaan tersebut secara rinci dengan mereka. Kami telah menjelaskannya. Bahkan, ini bukan sekadar improvisasi," kata Rubio kepada para wartawan.
Rencana itu seperti apa? Sejauh ini, yang terlihat adalah sebuah kesepakatan masih belum dikonfirmasi oleh pihak Caracas di mana Venezuela akan menyerahkan puluhan juta barel minyak mentahnya ke AS. Trump menyebut angka antara 30 hingga 50 juta barel pada hari Selasa. Selain itu, ada wacana investasi perusahaan minyak AS di fasilitas Venezuela yang sudah tua dan rusak, meski belum ada satu perusahaan pun yang secara resmi berkomitmen.
Pertemuan Jumat nanti, menurut Leavitt, adalah langkah awal. "Itu hanya pertemuan untuk membahas, tentu saja, peluang besar yang ada di hadapan perusahaan-perusahaan minyak ini saat ini," katanya.
Peluang besar di tengah kekosongan kekuasaan. Narasinya sederhana: pengaruh maksimal, dengan minyak sebagai taruhannya.
Artikel Terkait
Kemacetan di Keluar Tol Kebon Bawang Mulai Terurai, Polisi Ungkap Pola Rutin
Trump Bebaskan Dua Kru Rusia, Moskow Ucapkan Terima Kasih
Polisi dan Istri Menyamar, Gagalkan Aborsi di Klinik Puncak
Gus Imron Tuding Islah di Tubuh PBNU Hanya Wacana Belaka