Sampai di depan rumah, keadaan mencemaskan. Pintunya dikunci dari luar. Ketukan tak dijawab. Khawatir terjadi hal buruk, akhirnya warga membantu membukanya paksa.
"Rumah itu dikunci dari luar oleh ibunya. Saat kami ketuk, tidak ada yang bisa membuka sehingga akhirnya dibuka paksa. Kami khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Sri Yatmini.
Pemandangan di dalam sungguh memilukan. Anak berinisial AC (3) sudah terbaring kesakitan akibat jatuh. Kakaknya, PI (8), ternyata sengaja tidak disekolahkan hari itu untuk menjaga adik-adiknya, termasuk satu balita berusia dua tahun yang sedang sakit. Lingkungan rumah pun jauh dari kata aman. Colokan listrik terbuka, kompor, dan peralatan rumah tangga lain berserakan semuanya tanpa pengawasan.
Ketiga anak itu sempat dibawa ke Polres untuk penanganan lebih lanjut. Namun begitu, orang tuanya menolak keras ketika ditawarkan penempatan di rumah aman. Mereka bahkan membuat pernyataan tertulis bermaterai, disaksikan Ketua RT dan warga, yang menyatakan keberatan tersebut.
Polisi akhirnya hanya bisa mengimbau. Mereka meminta sang orang tua untuk betul-betul menjaga anaknya ke depannya. Kasus ini jadi pengingat buat semua orang tua: jangan pernah tinggalkan anak kecil tanpa pengawasan, apalagi di rumah dengan potensi bahaya yang jelas terlihat. Perlindungan anak harus jadi prioritas, agar tragedi seperti ini tidak terulang lagi.
Artikel Terkait
Menteri Luar Negeri Lebanon Khawatir Infrastruktur Vital Jadi Sasaran Jika Ketegangan Israel-Iran Meledak
Bupati Pandeglang Sidak Pasar, Temukan Jajanan Mengandung Zat Berbahaya
Jaksa Tuntut Anggota Brimob 5 Bulan Penjara dalam Kasus Penganiayaan Wartawan dan Pegawai KLHK
DPRD Sulut Sahkan Tiga Ranperda Strategis, Gubernur Tekankan Implementasi