Dari Balik Tembok Lapas, Panen dan Harapan Tumbuh Bersama

- Senin, 05 Januari 2026 | 17:50 WIB
Dari Balik Tembok Lapas, Panen dan Harapan Tumbuh Bersama

“Hasil panen sayur itu akan kami jual ke pasar lokal. Ini bukti bahwa di balik tembok ada proses pembinaan, pemberdayaan, dan harapan yang terus tumbuh,” tegas Bambang.

Menurutnya, program kemandirian seperti ini adalah bekal nyata. Terutama pengolahan kelapa yang sangat relevan dengan potensi lokal Belu dan Malaka. “Ini bentuk pemenuhan hak bersyarat mereka melalui peningkatan keterampilan,” lanjutnya.

VCO La'Bua kini jadi semacam ikon. Sebuah prestasi yang diharapkan bisa mengubah stigma negatif tentang lapas.

Kisah Serupa dari Tolitoli

Gema yang sama terdengar dari Sulawesi Tengah. Program serupa di Lapas IIB Tolitoli sudah menuai hasil rutin: 30 kilogram sayur per hari. Lahan yang digarap tujuh narapidana ini memang diawali dengan pelatihan dari profesional.

“Mereka belajar bekerja secara terstruktur dan memahami proses pertanian dari awal hingga panen. Nilai edukasinya sangat kuat,” jelas Feldianto, Kepala Seksi Bimbingan.

Kepala Lapas Tolitoli, Mansur Yunus Gafur, menambahkan bahwa kegiatan ini punya manfaat jangka panjang. Bukan cuma mengisi waktu, tapi juga bekal ilmu setelah mereka bebas. “Kami berharap ini mendukung reintegrasi sosial sekaligus kontribusi untuk ketahanan pangan,” tegas Mansur.

Berjaga-jaga dari Angin Kencang di Wahai

Sementara dari Maluku Tengah, ceritanya agak berbeda. Semangatnya sama, tapi tantangannya lain. Petugas dan narapidana di Lapas Kelas III Wahai justru sibuk melindungi ribuan tanaman jagung dari ancaman angin kencang.

Mereka bergotong royong memperkuat penopang dan tanggul di sekitar lahan. “Ini mitigasi wajib,” terang Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya. “Kami harus tanggap. Angin kencang bisa menyebabkan bencana dan gagal panen.”

Upaya itu makin intensif karena rencananya akan ada panen raya di Wahai bulan ini. “Kami berupaya maksimal melindunginya,” tambahnya.

Program jagung di sini sebelumnya cukup sukses, dengan panen raya mencapai 1,2 ton pada Oktober 2025. Menurut Usman Bakri, Kepala Subseksi Keamanan dan Ketertiban, aksi mitigasi ini bagian dari edukasi. “Kami ajarkan cara praktis melindungi tanaman. Mereka belajar membaca tanda cuaca dan membuat penopang yang kuat,” jelasnya.

Harapannya, wawasan dan kepekaan para warga binaan terhadap lingkungan dan cuaca semakin meningkat. Sebuah pelajaran hidup yang, sekali lagi, tak cuma tentang bercocok tanam.


Halaman:

Komentar