Awal 2026, ada geliat yang menarik dari balik tembok-tembok lembaga pemasyarakatan. Di beberapa lapas, kegiatan bercocok tanam mulai menunjukkan hasil. Mulai dari panen sayuran segar hingga upaya serius melindungi tanaman jagung dari terpaan angin kencang agar tidak gagal panen.
Ini bukan sekadar kegiatan iseng. Program ketahanan pangan ini merupakan turunan dari visi pemerintah yang dijalankan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Menteri Agus Andrianto melihat potensi besar dari lahan-lahan sisa di kompleks lapas. Tujuannya ganda: mendukung swasembada sekaligus membuat warga binaan lebih produktif.
Di Lapas Kelas IIB Atambua, NTT, suasana cukup riuh pada suatu Sabtu di awal Januari. Petugas dan sejumlah narapidana sedang memanen sawi. Hasilnya lumayan: 250 kilogram. Empat orang yang menekuninya selama sebulan penuh tampak puas.
“Kami selalu memberikan mereka semangat bahwa mengelola tanaman membutuhkan ketelatenan dan kesabaran,” jelas Andra Sukabir, Kepala Subseksi Kegiatan Kerja.
Menurut Andra, jalan menuju panen tak selalu mulus. Cuaca panas dan persediaan air yang terbatas sempat jadi kendala. Solusinya? Mereka membangun sistem drainase yang lebih baik untuk mengatasinya.
Seorang narapidana bernama Matias berbagi cerita. “Proses budidaya sawi ini benar-benar mengajarkan kami untuk disiplin dan menghargai proses. Di sini saya belajar, tanah bisa memberi kehidupan kalau kita mau mengusahakannya. Rasanya, panen ini membuat saya merasa berguna lagi.”
Sukses dengan sawi, pihak lapas sudah punya rencana lanjutan. Lahan yang ada akan dimaksimalkan untuk menanam cabai, tomat, bahkan sayuran hidroponik.
Lebih Dari Sekadar Sayur: Lahirnya VCO La'Bua
Tak cuma urusan tanah, Lapas Atambua juga menggarap produk olahan. Mereka memproduksi virgin coconut oil atau VCO. Bermodal 50 buah kelapa pilihan, para warga binaan mengolahnya selama lima hari penuh mulai dari pengupasan hingga perendaman parutan.
“Kuncinya ada pada ketelitian ekstraksi santan dan masa fermentasi selama dua kali 24 jam,” ujar Andra lagi. “Kami harus pastikan pemisahan minyak dan airnya sempurna sebelum dikemas.”
Dari proses itu, dihasilkanlah 30 botol VCO ukuran 100 ml. Produk itu mereka beri nama VCO La'Bua, yang sudah punya NIB dan izin PIRT.
Pelatihan pembuatannya sendiri digelar pada November 2025. Bagi narapidana seperti Nico, pelatihan ini membuka pandangan baru. “Kami jadi punya kepercayaan diri untuk membuka usaha sendiri setelah bebas nanti. Jadi, tidak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat,” katanya.
Dari Dalam Tembok untuk Pasar Lokal
Kepala Lapas Atambua, Bambang Hendra Setyawan, menegaskan bahwa lapas harus lebih dari sekadar tempat hukuman. “Ini adalah pusat pelatihan yang bisa berkontribusi nyata untuk ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
“Hasil panen sayur itu akan kami jual ke pasar lokal. Ini bukti bahwa di balik tembok ada proses pembinaan, pemberdayaan, dan harapan yang terus tumbuh,” tegas Bambang.
Menurutnya, program kemandirian seperti ini adalah bekal nyata. Terutama pengolahan kelapa yang sangat relevan dengan potensi lokal Belu dan Malaka. “Ini bentuk pemenuhan hak bersyarat mereka melalui peningkatan keterampilan,” lanjutnya.
VCO La'Bua kini jadi semacam ikon. Sebuah prestasi yang diharapkan bisa mengubah stigma negatif tentang lapas.
Kisah Serupa dari Tolitoli
Gema yang sama terdengar dari Sulawesi Tengah. Program serupa di Lapas IIB Tolitoli sudah menuai hasil rutin: 30 kilogram sayur per hari. Lahan yang digarap tujuh narapidana ini memang diawali dengan pelatihan dari profesional.
“Mereka belajar bekerja secara terstruktur dan memahami proses pertanian dari awal hingga panen. Nilai edukasinya sangat kuat,” jelas Feldianto, Kepala Seksi Bimbingan.
Kepala Lapas Tolitoli, Mansur Yunus Gafur, menambahkan bahwa kegiatan ini punya manfaat jangka panjang. Bukan cuma mengisi waktu, tapi juga bekal ilmu setelah mereka bebas. “Kami berharap ini mendukung reintegrasi sosial sekaligus kontribusi untuk ketahanan pangan,” tegas Mansur.
Berjaga-jaga dari Angin Kencang di Wahai
Sementara dari Maluku Tengah, ceritanya agak berbeda. Semangatnya sama, tapi tantangannya lain. Petugas dan narapidana di Lapas Kelas III Wahai justru sibuk melindungi ribuan tanaman jagung dari ancaman angin kencang.
Mereka bergotong royong memperkuat penopang dan tanggul di sekitar lahan. “Ini mitigasi wajib,” terang Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya. “Kami harus tanggap. Angin kencang bisa menyebabkan bencana dan gagal panen.”
Upaya itu makin intensif karena rencananya akan ada panen raya di Wahai bulan ini. “Kami berupaya maksimal melindunginya,” tambahnya.
Program jagung di sini sebelumnya cukup sukses, dengan panen raya mencapai 1,2 ton pada Oktober 2025. Menurut Usman Bakri, Kepala Subseksi Keamanan dan Ketertiban, aksi mitigasi ini bagian dari edukasi. “Kami ajarkan cara praktis melindungi tanaman. Mereka belajar membaca tanda cuaca dan membuat penopang yang kuat,” jelasnya.
Harapannya, wawasan dan kepekaan para warga binaan terhadap lingkungan dan cuaca semakin meningkat. Sebuah pelajaran hidup yang, sekali lagi, tak cuma tentang bercocok tanam.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Pria di Kebon Jeruk, Sita Lebih 1 Kg Kokain dari Malaysia
Hetifah Sjaifudian: Kecaman ke Alumni LPDP adalah Alarm Sosial, Bukan Serangan Pribadi
Gempa M 7,1 Guncang Lepas Pantai Malaysia, Dirasakan hingga Kalimantan
Rumah di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik