Malam pergantian tahun biasanya diisi dengan perayaan. Tapi tahun ini, Presiden Prabowo memilih untuk berada di tengah lumpur dan duka, mengunjungi pengungsi korban banjir dan longsor di Tapanuli Selatan dan Aceh Tamiang. Kehadirannya di saat seperti ini bukan cuma sekadar seremoni. Lebih dari itu, ini adalah pernyataan nyata bahwa negara tak absen di kala warganya paling membutuhkan.
Di tengah proses pemulihan yang masih berjalan bahkan bisa dibilang belum maksimal kehadiran seorang pemimpin membawa pesan solidaritas yang kuat. Ia menjadi sumber harapan, pengingat bahwa kita tidak berjuang sendirian.
Menurut sejumlah saksi, suasana di posko pengungsian langsung berubah saat Presiden tiba. Di Desa Batu Hula, Batang Toru, Prabowo menyampaikan semangatnya langsung kepada warga.
"Kita menghadapi kesulitan, kita menghadapi musibah, kita menghadapi tantangan tapi kita harus terus semangat ikhlas kita harus terus kuat, tegar jiwa kita dan yang paling penting tadi kita harus gotong royong kita harus bersama-sama menghadapi kesulitan,"
Ucapannya sederhana, tapi tepat menyentuh apa yang dibutuhkan saat ini: kebersamaan dan kegotongroyongan.
Secara teoritis, langkah seperti ini adalah wujud kepemimpinan transformasional. Ia tak cuma datang sebagai pengambil keputusan dari jauh, melainkan jadi figur yang menyatukan semangat. Situasi pascabencana yang ruwet dan dinamis memang menuntut pemimpin untuk adaptif. Mereka harus bisa mengobservasi pola, konflik, dan kepentingan yang muncul dari dekat, seperti yang pernah diungkapkan Heifetz (1994).
Nah, di sinilah pentingnya karakteristik pemimpin krisis: kemampuan beradaptasi cepat, komunikasi yang efektif, dan keterbukaan untuk berkolaborasi. Komunikasi dan kolaborasi itu krusial banget di masa-masa genting.
Di sisi lain, pemulihan pascabencana sejatinya adalah proses panjang. Ini bukan cuma soal membangun kembali rumah dan jalan yang rusak. Tapi juga kesempatan untuk membangun ketahanan di berbagai aspek sosial, ekonomi, infrastruktur agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman di masa depan. Proses ini, seperti digambarkan dalam berbagai literatur, menawarkan peluang untuk bangkit lebih kuat.
Harapan dan kepercayaan adalah modal sosial yang tak ternilai harganya pasca sebuah musibah. Peran pemimpin adalah untuk menumbuhkan dan menjaga kedua hal itu. Kepemimpinan yang empatik, yang didasari rasa percaya, terbukti bisa meningkatkan resiliensi atau daya tahan masyarakat. Mereka jadi yakin bahwa dukungan dan bantuan akan terus mengalir.
Lalu, bagaimana semua komitmen ini diwujudkan? Di lapangan, pemulihan memerlukan aksi nyata yang terkoordinasi: komunikasi, kolaborasi, dan koordinasi atau biasa disebut 3K. Pembentukan Satgas Pemulihan Bencana oleh DPR RI di Sumatera dan Aceh adalah salah satu upaya memperkuat koordinasi lintas lembaga. Kehadiran presiden untuk mengecek langsung pembangunan hunian sementara (huntara) juga bagian dari pengawalan proses ini.
Intinya, ini adalah upaya kolektif. Negara memberikan arahan dan legitimasi, sementara masyarakat adalah aktor utamanya. Kepemimpinan kolaboratif adalah kuncinya.
Oleh karena itu, komitmen yang sudah ditunjukkan di level tertinggi harus segera diterjemahkan menjadi aksi yang lebih cepat dan berkelanjutan. Distribusi bantuan harus dipercepat, program pemulihan harus dipastikan terus jalan. Dengan sinergi yang kuat antara negara dan masyarakat, pemulihan tidak akan berhenti pada rekonstruksi fisik belaka. Tapi yang lebih penting: membangun ketangguhan sosial sebagai fondasi untuk bangkit bersama, lebih kuat dari sebelumnya.
Muhamad Hidayat. Akademisi dan Relawan Kemanusiaan, Pakar Komunikasi Bencana dan Krisis.
Artikel Terkait
Helikopter Penyelamat Jatuh di Peru, 15 Orang Tewas
Saan Mustopa Padukan Bagi-bagi Sembako dengan Konsolidasi Data Jelang 2029
Gibran Ingatkan Pemerataan Guru Jadi Fondasi Transformasi Digital
Majikan di Bogor Diperiksa Polisi Usai Diduga Aniaya ART, Keluar Mapolres Pakai Kursi Roda