Setelah kejadian mengerikan itu, mereka kabur. Dalam pelarian, terjadi pergantian sopir. Si pelaku awal menyerahkan kemudi kepada JC, lalu menghilang begitu saja.
"Sedang kita cari. Dia lari pas saat bergantian mengemudi," ucap Ojo.
Alasan pergantiannya? Rupanya JC sudah tidak percaya dengan kemampuan sang teman. Situasi setelah menabrak pasti kacau, penuh kepanikan. "Karena kurang yakin JC kepada temannya, ya habis menabrak itu kan, akhirnya kemudi diambil alih oleh JC," sambungnya.
Sayangnya, keputusan mengambil alih kemudi justru membawa mereka ke dalam bahaya baru. Mobil Mazda CX-5 itu langsung dikejar oleh massa yang murka. Dalam kondisi panik, JC menerobos palang pintu kereta api yang sudah tertutup di kawasan Gunung Sahari.
Hasilnya tragis. Mobil itu bertabrakan dengan sebuah lokomotif yang sedang melintas. Padahal, bunyi peringatan kereta sudah jelas terdengar.
Kecelakaan awal di Tambora sendiri terjadi sekitar pukul 02.20 WIB. Dua remaja, Satrio (16) dan Valentino (19), meregang nyawa. Mereka adalah pengendara dan pembonceng motor Honda PCX yang menjadi korban tabrak lari. Keduanya mengalami luka parah di kepala, kaki, dan tangan.
Dengan terungkapnya fakta ini, maka revisi pun dilakukan. Informasi sebelumnya yang menyebut JC sebagai pelaku tabrak lari, diperbaiki. Sementara, sosok sopir pertama yang sesungguhnya masih buron, terus dikejar oleh polisi.
"Belum ditangkap," jelas Ojo tentang status pengejaran terhadap sang sopir misterius itu.
Artikel Terkait
Bus Peziarah Hangus di Tol Japek Diduga Akibat Korsleting Sound System
Ibu Nadiem Usai Sidang: Dia Jalankan Tugas dengan Sepenuh Hati
Dapur Sehat di Balik Jeruji: 200 Lapas Siap Produksi Makanan Bergizi Gratis
Menteri Supratman Pastikan Asas Paling Menguntungkan Jadi Pedoman Transisi KUHP Baru