Dari Kolong Tol, Jamal dan PPSU Cipinang Melayu Panen Sayur untuk Warga

- Minggu, 14 Desember 2025 | 15:24 WIB
Dari Kolong Tol, Jamal dan PPSU Cipinang Melayu Panen Sayur untuk Warga

Pemandangan tak biasa kini menghampar di kolong tol Becakayu. Lahan yang dulu kosong dan mungkin terlupakan, sekarang dipenuhi hamparan hijau sayur-mayur. Kangkung, sawi, terong semuanya tumbuh subur di bawah lengkungan beton jalan layang itu.

Rupanya, yang menggarap lahan ini adalah para petugas PPSU. Di Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta Timur, misalnya, mereka menyulap ruang sisa menjadi kebun produktif. Salah satu penggeraknya adalah Jamal, seorang PPSU di RW 006.

Jamal sudah jadi PPSU sejak 2019. Tapi tugas barunya mengurusi urban farming ini baru dimulai tahun lalu, tepatnya 2023.

"Saya bekerja sebagai PPSU dari tahun 2019 sampai detik ini. Kalau di urban farming, baru tahun 2023 ditugaskannya," kata Jamal saat kami temui di Cipinang Melayu, Minggu lalu.
"Awalnya kita kerja sistem zona. Lalu di 2023, kita dialihkan ke program penghijauan ini," jelasnya.

Menurut ceritanya, penunjukan itu datang langsung dari Lurah dan Kasi Ekbang setempat. Saat itu, Jamal mengaku sama sekali buta soal bercocok tanam. Tapi dia tak menyerah. Dengan semangat belajar sendiri, ia pelan-pelan mencoba.

"Enggak ada bimbingan khusus, enggak ada. Kita autodidak. Setelah berhasil dan hasil tanam kami tunjukkan, alhamdulillah, Pak Lurah dan Kasi Ekbang mempercayakan kami untuk lanjut," tutur Jamal.

Dia bahkan menyempatkan diri belajar dari petani-petani di kawasan Halim. Ilmu itu dipraktikkan sendiri di lahan kosong itu, sedikit demi sedikit.

"Kita belajar sama orang yang lebih ngerti. Dari petani Halim, kita ambil ilmunya. Di hari libur atau waktu senggang, kita coba cara menanam bibit yang benar. Alhamdulillah, kita dikasih tahu dan kita tekuni," paparnya.

Proses belajarnya makan waktu sekitar tiga bulan. Setelah itu, barulah panen pertama bisa dipetik.

"Mungkin sekitar tiga bulan lah. Setelah itu, kita sudah bisa panen kangkung, sawi, bayam, terong. Hasil panen kita kasih ke kelurahan, dan mereka lihat bahwa kita bisa. Sampai sekarang, saya masih terus mengelola lahan di kolong tol ini," imbuhnya.

Lahan Kecil, Hasilnya Tak Kecil

Luas lahannya sebenarnya tak besar, cuma sekitar 150 meter persegi. Tapi di atas sepetak tanah itu, beragam tanaman tumbuh dengan produktif. Ada jagung, terong, tomat, sampai ubi jalar.

Bibit-bibitnya didapat dari Dinas KPKP DKI atau kelurahan. Setelah panen, hasilnya diserahkan ke kelurahan untuk kemudian dikelola lebih lanjut.

"Kalau bibit, kita dapat dari KPKP atau kelurahan. Apa yang dikasih, itu yang kita tanam," beber Jamal.
"Hasil panen kita serahkan ke Kelurahan Cipinang Melayu. Intinya, ke kelurahan dulu, baru ke warga," pungkasnya.

Uang dari penjualan hasil panen itu dikembalikan lagi untuk kebutuhan kebun, seperti beli bibit baru. Siklusnya terus berputar. Lahan kolong tol yang dulu sepi, kini bukan cuma hijau, tapi juga punya nilai guna yang nyata.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler