Gagasan ini muncul spontan saat Tito memaparkan rencana pengiriman praja IPDN. Tugas mereka di Aceh Tamiang nanti tak sekadar kerja bakti fisik. Mereka juga ditugaskan untuk menghidupkan kembali roda pemerintahan dan pelayanan publik yang lumpuh pascabencana.
Presiden Prabowo, menurut Tito, sangat mengapresiasi langkah ini. Apresiasinya bahkan sampai pada titik beliau membuka opsi perpanjangan masa penugasan.
Selain soal pemberdayaan taruna, Presiden juga menekankan hal yang lebih mendasar. Pemulihan infrastruktur krusial seperti jembatan, jalan, puskesmas, sekolah, dan tempat pengungsian harus dipercepat. Itu fondasi utama agar kehidupan warga yang terdampak bisa berangsur pulih. Langkah strategis dengan melibatkan kampus kedinasan, diharapkan bisa memberi napas baru bagi proses pemulihan yang kerap terasa lambat itu.
Artikel Terkait
Sepuluh Tahun Berjualan Tikar di Ragunan, Kisah Dede dan Setumpuk Harapan di Hari Libur
Operasi AS di Caracas: Penangkapan Maduro dan Pertanyaan Hukum yang Menggantung
Patung Macan Kuda Nil di Kediri Jadi Magnet Wisata, Ekonomi Warga Melejit
Siaga Arus Balik, Sistem Satu Arah di Puncak Dimajukan Lebih Cepat