Namun begitu, pemulihan tak cuma soal air surut atau bangunan berdiri lagi. Bagi Mendagri, ukurannya lebih dari itu. "Pulih itu ketika pemerintahan daerah berjalan normal dan ekonomi hidup kembali," jelas Tito. Aktivitas di pasar, restoran, warung, hingga hotel harus bergerak lagi. Itu tandanya.
Dua minggu lalu, tanda-tanda itu nyaris tak terlihat di Aceh Tamiang. Tapi dalam kunjungan terakhirnya, ada secercah harapan. "Sebagian kecil warung dan restoran sudah buka, pemerintahan juga mulai bersih," katanya. Sayangnya, itu belum cukup. Dampak kerusakannya memang teramat luas.
Menyikapi hal itu, pemerintah pusat tak tinggal diam. Penguatan personel dan sumber daya digenjot. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan memberangkatkan 1.138 Praja IPDN. Mereka ditugaskan untuk membantu membersihkan kantor pemerintahan, menghidupkan layanan publik, dan mendampingi aparat setempat yang juga ikut terdampak. Upaya gotong royong besar-besaran ini diharapkan bisa mempercepat pemulihan di tanah yang berbentuk mangkuk itu.
Artikel Terkait
BEI Ungkap 9 Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
Presiden Prabowo Dikawal Enam Jet Tempur dalam Penerbangan ke Magelang, Sambut HUT ke-80 TNI AU
Pemerintah Arahkan Motor Listrik untuk Pasar Domestik, Motor BBM Digenjot Ekspor
Anggota DPR Ingatkan Ulang Ancaman Kolaps BPJS Kesehatan pada 2026