Kembang Api di Botol Sampanye Diduga Picu Malapetaka di Bar Swiss

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:25 WIB
Kembang Api di Botol Sampanye Diduga Picu Malapetaka di Bar Swiss

Lilin kembang api. Dari benda kecil itulah, menurut otoritas Swiss, malapetaka di sebuah bar mewah di resor ski Crans-Montana berawal. Setidaknya 40 nyawa melayang dalam kebakaran malam Tahun Baru yang mengerikan itu.

Jaksa setempat, Beatrice Pilloud, membeberkan temuan awal pada Jumat lalu. Dari rekaman video dan keterangan saksi, fokus penyelidikan mengerucut pada kembang api atau lilin Bengal yang diikatkan pada botol sampanye.

"Semua indikasi menunjukkan bahwa api bermula dari kembang api atau lilin Bengal yang diikatkan pada botol-botol sampanye,"

ujar Pilloud dalam konferensi pers.

Dia melanjutkan, meski hipotesis ini kuat, belum ada konfirmasi final. Tapi yang jelas, setelah percikan api itu muncul, segalanya berlangsung sangat cepat. "Dari situ, kebakaran yang cepat, sangat cepat, dan meluas pun terjadi," sebutnya.

Bayangkan suasana saat itu. Bar "Le Constellation" yang terletak di ruang bawah tanah itu penuh dengan anak muda, kebanyakan berusia belasan hingga dua puluhan tahun. Mereka sedang berpesta. Video yang beredar menunjukkan kembang api di atas botol sampanye itu diacung-acungkan, terlalu dekat dengan langit-langit.

Dan di situlah masalahnya.

Langit-langit bar itu dilapisi busa peredam suara. Material yang mudah terbakar. Beberapa video bahkan sempat merekam saat material itu mulai menyala. Anehnya, para pengunjung masih asyik menari, tak sadar bahaya yang sudah menjalar di atas kepala mereka.

Penyelidikan juga menyoroti busa insulasi di langit-langit itu. Diduga, material inilah yang membuat api begitu ganas dan menyebar dalam sekejap. Pilloud menyatakan penyidik masih memeriksa kemungkinan ini.

Jadi, gabungan fatal antara kembang api, langit-langit rendah, dan bahan yang mudah terbakar. Itulah skenario tragis yang diduga kuat merenggut puluhan nyawa di tengah hingar-bingar pergantian tahun di Pegunungan Alpen.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar