“Pengaturan arus lalu lintas bersifat situasional dan akan disesuaikan dengan eskalasi jumlah massa di lapangan. Kami mohon pengertian masyarakat atas potensi kepadatan yang terjadi,” ungkapnya.
Demo hari ini bukanlah aksi yang tiba-tiba. Akar kemarahannya jelas: penolakan terhadap angka UMP DKI Jakarta 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 5.729.876. Bagi KSPI, angka ini terasa menyakitkan karena justru lebih rendah dari kabupaten tetangga seperti Bekasi dan Karawang.
Penolakan itu diutarakan dengan keras oleh Presiden KSPI yang juga menjabat Presiden Partai Buruh, Said Iqbal.
“Kami menolak. Saya ulangi, KSPI dan Partai Buruh menolak kenaikan upah minimum DKI Jakarta Tahun 2026 yang ditetapkan dengan indeks 0,75 sehingga UMP-nya hanya Rp 5,73 juta,” kata Said Iqbal kepada wartawan pada Jumat lalu (26/12).
Rencana aksi pun sudah diumumkan sebelumnya. Said Iqbal menyebut puncaknya akan digelar hari ini, 30 Desember, dengan mengerahkan massa dalam jumlah besar.
“Istana saja, tanggal 29 Desember sekitar 1.000 orang. Puncaknya tanggal 30 Desember 10 ribu motor,” ujarnya pada Minggu (28/12/2025).
Jadi, suasana di jantung ibu kota hari ini memang patut diwaspadai. Antara hak menyampaikan pendapat dan kebutuhan akan ketertiban umum, sekali lagi, diuji di sekitar Monas.
Artikel Terkait
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Puan Maharani Desak Investigasi
Trump Pertimbangkan Hentikan Perang Iran, Fokus Beralih ke Target Militer Terbatas
Menteri ESDM Pastikan Stok BBM dan LPG Aman Meski Konflik Timur Tengah
Program Makan Bergizi Gratis Dikurangi Jadi Lima Hari Seminggu, Penghematan Capai Rp20 Triliun