Langkah Israel yang secara resmi mengakui kedaulatan Somaliland ternyata memicu gelombang penolakan. Tak tanggung-tanggung, lebih dari dua puluh negara baik dari kawasan Timur Tengah, Afrika, maupun yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam bersuara keras menentangnya. Pernyataan bersama mereka menegaskan sikap itu.
Sebelumnya, Israel sudah menandatangani perjanjian untuk membuka hubungan diplomatik, sekaligus menyatakan Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat. Bagi Somaliland, ini adalah momen penting. Mereka menyambutnya sebagai pengakuan resmi pertama yang pernah mereka dapatkan sepanjang sejarah.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mengumumkan keputusan bersejarah ini. Lewat pernyataan resmi kantornya, Israel dengan bangga menyebut diri sebagai negara pertama yang melakukan pengakuan.
"Israel kini menjadi negara pertama yang mengakui Republik Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat," begitu bunyi pernyataan itu.
"Pengumuman ini sejalan dengan semangat Perjanjian Abraham," tambahnya, merujuk pada kesepakatan yang difasilitasi mantan Presiden AS Donald Trump dengan sejumlah negara Arab.
Di sisi lain, Presiden Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdullahi, jelas antusias. Dia melihat ini sebagai pintu masuk menuju kerja sama yang lebih strategis.
"Ini momen bersejarah... kami menyambut pengakuan Perdana Menteri Israel dan menegaskan kesiapan Somaliland bergabung dengan Abraham Accords," tulisnya di platform media sosial X.
Memang, sejak memproklamasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991, Somaliland terus berjuang untuk diakui dunia internasional. Presiden Abdullahi sendiri menjadikan misi ini sebagai prioritas utama sejak dilantik tahun lalu.
AS Pilih Berbeda dari Israel
Namun begitu, tidak semua sekutu Israel sepaham. Amerika Serikat, misalnya, menyatakan sikap yang justru bertolak belakang. Presiden Donald Trump dengan tegas mengatakan pemerintahannya tidak akan mengikuti langkah Israel.
Pernyataan Trump ini disampaikan dalam wawancara dengan New York Post, sehari setelah Netanyahu mengumumkan pengakuannya. Saat ditanya apakah AS akan mengakui kedaulatan Somaliland, jawabannya singkat dan tegas.
"Tidak," ujar Trump.
Dia bahkan menyelipkan nada skeptis, seolah mempertanyakan pengetahuan dunia tentang wilayah tersebut.
"Apakah ada yang benar-benar tahu apa itu Somaliland?" tanyanya retoris.
Jadi, sementara Somaliland merayakan satu langkah maju, reaksi internasional justru terbelah. Pengakuan dari Israel ini ibarat batu yang dilempar ke kolam, menciptakan riak yang jauh lebih luas dari yang mungkin dibayangkan.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Investigasi Tuntas Penembakan Pesawat di Papua Selatan
BTS Pecahkan Rekor Penjualan Tiket di London, Ludes dalam 30 Menit
Trump Tegaskan Negosiasi dengan Iran Berlanjut Meski Netanyahu Ragukan Hasilnya
Kejagung Geledah Delapan Perusahaan Sawit di Pekanbaru dan Medan