Delapan tahun. Itu waktu yang dihabiskan KPK untuk mengusut tuntas kasus korupsi izin tambang di Konawe Utara. Ironisnya, lembaga antirasuah itu sendiri yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan penyelidikan. Padahal, nilai kerugian negaranya disebut-sebut fantastis, bahkan mengalahkan kasus megaskandal e-KTP yang sempat menggemparkan.
Semuanya berawal di awal Oktober 2017. Tepatnya tanggal 3, KPK membuat pengumuman resmi. Mereka telah menetapkan mantan Bupati Konawe Utara, Aswad Sulaiman, sebagai tersangka.
“Menetapkan ASW (Aswad Sulaiman) sebagai tersangka,”
Begitu pengumuman Wakil Ketua KPK saat itu, Saut Situmorang, di kantornya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Suasana saat itu tegang, penuh sorotan.
Dan angka yang disebutkan Saut benar-benar membuat publik tercengang. Kerugian negara ditaksir mencapai Rp 2,7 triliun. Sebuah jumlah yang sulit dibayangkan. Dalam kesempatan itu, Saut dengan tegas membandingkannya. Menurutnya, kasus ini lebih besar kerugiannya ketimbang kasus e-KTP yang sudah lebih dulu viral. Pernyataan itu, tentu saja, langsung menyulut banyak tanda tanya dan ekspektasi tinggi agar kasusnya dibawa sampai ke pengadilan.
Artikel Terkait
Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Kasus Korupsi Ekspor CPO yang Direkayasa Jadi Limbah
Pria di Asahan Ditahan Diduga Cabuli Empat Siswi SD dengan Modus Imbalan
HKTI Salurkan Bantuan Lebih dari Rp1 Miliar untuk Korban Bencana di Jabar dan Jateng
Andi Gani Nena Wea Kembali Pimpin ATUC, Soroti Isu Union Busting dan Perdamaian ASEAN