Pesta kembang api dilarang di Riau saat malam tahun baru nanti. Imbauan itu datang langsung dari Polda setempat, yang meminta warganya untuk tidak merayakan pergantian tahun dengan cara yang berlebihan.
Kebijakan ini bukan inisiatif lokal semata. Menurut Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, larangan tersebut merupakan arahan langsung dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang berlaku secara nasional. Intinya, tak ada izin untuk pesta kembang api di manapun di Indonesia. "Arahannya jelas," tegas Herry, "tidak ada izin pesta kembang api di seluruh Indonesia. Di Riau, kami melaksanakan arahan tersebut secara penuh dan konsisten."
Pernyataan itu dia sampaikan Sabtu lalu, menegaskan komitmen jajarannya.
Lalu, apa yang melatarbelakangi keputusan ini? Herry, yang akrab disapa Herimen, menyebut setidaknya ada dua alasan utama. Pertama, tentu saja soal rasa kemanusiaan. Bayangkan, di saat sebagian wilayah tanah air masih berduka karena terdampak bencana, euforia kembang api yang gemerlap terasa tak tepat. Bahkan, terkesan tak peka.
"Di tengah kondisi seperti ini, tidak elok merayakan pergantian tahun dengan euforia berlebihan," ujarnya. "Yang lebih tepat adalah refleksi, doa, dan solidaritas."
Alasan kedua lebih bersifat teknis dan keamanan. Sudah jadi rahasia umum, setiap tahun momen kembang api kerap diwarnai insiden. Mulai dari gangguan keamanan, kecelakaan, hingga ancaman kebakaran yang nyata. Herimen menegaskan, pendekatan pencegahan adalah jalan terbaik. "Keselamatan masyarakat adalah prioritas," katanya singkat.
Namun begitu, pelaksanaannya di lapangan nanti tak akan serta-merta represif. Polda Riau mengklaim akan memakai pendekatan humanis. Edukasi dan imbauan akan dikedepankan, dengan harapan muncul kesadaran dari masyarakat dan pelaku usaha sendiri. "Kami ingin masyarakat memahami bahwa ini bukan soal pembatasan, tetapi soal kepedulian dan tanggung jawab bersama," jelas Herimen.
Lantas, bagaimana sebaiknya merayakannya?
Kapolda punya ajakan. Alih-alih hingar-bingar kembang api, isilah malam pergantian tahun dengan hal-hal yang lebih bermakna. Kegiatan positif yang tetap menjaga esensi kebersamaan, misalnya. Baginya, tahun baru adalah waktu yang tepat untuk introspeksi dan memperkuat komitmen.
"Tahun Baru adalah momentum untuk menata ulang niat dan komitmen," pungkasnya. "Mari kita sambut dengan ketenangan, kepedulian, dan semangat menjaga satu sama lain."
Artikel Terkait
Bareskrim Ungkap Jaringan Sabu Malaysia-Riau, 14,7 Kg Disita
GoTo dan MRT Jakarta Resmikan Blok M Hub, Integrasikan Transportasi dengan Ekosistem Digital
Lazada Gelar Bucin Sale hingga 14 Februari, Sasar Belanja Hadiah Valentine
Menkes Pastikan Peserta PBI JKN yang Dinonaktifkan Diaktifkan Kembali, Utamakan Pasien Kritis