Angka korban jiwa dari bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar terus bertambah. Menurut data terbaru yang dirilis BNPB, jumlahnya kini mencapai 1.135 orang. Mirisnya, masih ada 173 orang lainnya yang dinyatakan hilang. Sementara itu, hampir setengah juta orang tepatnya 489.600 masih terpaksa tinggal di pengungsian.
Data yang diunggah di situs resmi BNPB pada Jumat pagi (26/12) itu menggambarkan betapa luasnya dampak bencana ini. Tak kurang dari 52 kabupaten dan kota di tiga provinsi porak-poranda diterjang. Kerusakan properti pun luar biasa. Lebih dari 157 ribu rumah rusak, dengan mayoritas sekitar 77 ribu unit mengalami kerusakan ringan. Tapi, angka-angka ini masih bisa berubah. Proses pendataan di lapangan masih terus berjalan, menghadapi tantangan medan dan komunikasi yang sulit.
Dari sekian banyak daerah, Aceh Utara menjadi wilayah yang paling berduka. Korban tewas di sana tercatat 205 orang. Disusul oleh Kabupaten Agam dengan 191 korban jiwa, dan Tapanuli Tengah sebanyak 133 orang. Berikut ini sepuluh daerah dengan jumlah korban meninggal tertinggi:
Aceh Utara: 205 orang
Agam: 191 orang
Tapanuli Tengah: 133 orang
Aceh Tamiang: 88 orang
Tapanuli Selatan: 88 orang
Aceh Timur: 57 orang
Sibolga: 55 orang
Bireuen: 38 orang
Tapanuli Utara: 36 orang
Padang Pariaman: 35 orang
Di tengah kesedihan ini, upaya pemulihan mulai digenjot. Pemerintah fokus memperbaiki fasilitas publik yang rusak berat jalan, jembatan, sekolah yang vital untuk menghidupkan kembali aktivitas warga. Langkah selanjutnya adalah menyediakan tempat tinggal. Pembangunan hunian sementara, dan nantinya hunian tetap, untuk para pengungsi menjadi prioritas utama. Prosesnya tentu tidak instan, butuh waktu dan tenaga ekstra di lapangan.
Artikel Terkait
DPD RI Terima Laporan Pelanggaran HAM di Papua Pegunungan dari Amnesty International
Polisi Sydney Bubarkan Aksi Tolak Kunjungan Presiden Israel dengan Gas Air Mata dan Semprotan Merica
Pengacara Bantah Virgoun Suruh Sopir Akses CCTV Rumah Inara Rusli
Teguran Soal Drum Berisik Berujung Penganiayaan dan Laporan Balik di Cengkareng