Seorang siswa muslim membuka doa dengan suara lirih namun jelas. Ia memohon kekuatan dan pertolongan untuk para korban.
"Ajari kami menjadi anak-anak yang jujur, rajin, dan saling menghormati, lindungi guru dan orang tua kami. Kami titipkan saudara-saudara di Sumatera yang tertimpa bencana. Kuatkan mereka dan dekatkan pertolongan-Mu ya Allah. Amin," ujar siswa itu.
Suasana hening sejenak sebelum giliran siswa beragama Kristen. Doanya meminta harapan dibangkitkan di tengah kesulitan.
"Tuhan Yesus yang mulia, tuntun guru dan orang tua kami dalam kasih dan tanggung jawab. Kami mohon perhatian bagi saudara kami di Sumatera yang sedang kesusahan. Bangkitkan harapan di hati mereka," ucapnya.
Lalu, secara bergantian, perwakilan dari umat Katolik, Buddha, dan Hindu menyusul. Masing-masing melafalkan doa terbaik sesuai tradisi dan kepercayaan mereka. Ritme dan bahasanya berbeda, tapi esensinya sama: kepedulian. Suasana hening dan khidmat menyelimuti ruangan dari awal hingga akhir.
Acara yang sederhana ini, nyatanya, meninggalkan kesan mendalam. Di tengah berita-berita bencana, ada secercah cahaya dari Bekasi yang dikirimkan lewat doa-doa tulus anak-anak.
Artikel Terkait
Kominfo Apresiasi X dan Bigo Live Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Dinaikkan
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Syawal 1447 H Bertepatan dengan Awal April 2026
Garena Bagikan 30 Kode Redeem Free Fire Gratis untuk 28 Maret 2026
LRT Sumsel Angkut Lebih dari 213 Ribu Penumpang Selama Libur Lebaran 2026