Banjir besar yang menerjang Aceh Timur memang telah menyisakan banyak persoalan. Akses ke sejumlah wilayah lumpuh total, termasuk ke Kecamatan Pantee Bidari. Tapi, upaya untuk menjangkau warga yang terisolasi tak boleh berhenti. Akhirnya, gabungan tim dari Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri dan TP PKK Pusat berhasil menembus kawasan itu. Tujuannya jelas: mempercepat penyaluran bantuan yang sangat dibutuhkan.
Di antara lokasi yang paling parah terdampak adalah Gampong Blang Seunong. Di sinilah fokus penanganan mereka. Safriati Safrizal, Ketua Bidang IV TP PKK Pusat, menegaskan bahwa kehadiran langsung di lapangan adalah bentuk komitmen nyata. "Kami ingin memastikan masyarakat di sini tidak merasa ditinggalkan oleh negara," ujarnya.
"Meski akses terbatas dan kondisi medan cukup berat, kami memastikan tim tetap hadir untuk melihat langsung kebutuhan warga,"
kata Safriati dalam keterangan tertulisnya, Rabu lalu.
Gambaran situasinya cukup memprihatinkan. Banjir dengan ketinggian yang disebut-sebut mencapai belasan meter itu tak hanya merendam permukiman. Banyak rumah hanyut atau rusak parah terseret arus deras. Jalan-jalan menuju lokasi pun rusak, memutus akses sama sekali. Bahkan hingga kini, listrik belum sepenuhnya pulih. Bayangkan kesulitan warga saat malam tiba, ditambah dengan terganggunya pelayanan dasar di posko-posko pengungsian.
Merespon kondisi darurat itu, tim langsung bergerak. Bantuan genset dan lampu senter disalurkan sebagai solusi darurat untuk mengusir gelap. Tak cuma itu, mereka juga membawa berbagai kebutuhan pokok. Mulai dari obat-obatan, makanan instan, sembako, sampai kasur dan perlengkapan mandi. Semua didistribusikan untuk meringankan beban warga.
Sambil menyalurkan bantuan, tim juga melakukan pendataan. Mereka mencatat kerusakan rumah dan memetakan kebutuhan mendesak, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak, ibu, dan lansia. Menurut Safriati, data lapangan ini punya peran krusial.
"Hasil tinjauan lapangan akan menjadi dasar koordinasi dengan pemerintah daerah dalam tahap pemulihan. Data yang kami kumpulkan di lapangan akan menjadi rujukan penting agar penanganan pascabencana dapat dilakukan secara maksimal dan tepat sasaran,"
tambahnya.
Intinya, kehadiran mereka di Pantee Bidari bukan sekadar seremonial. Ini adalah langkah awal untuk memastikan penanganan darurat sesuai realita di lapangan dan menjadi pijakan bagi kebijakan pemulihan jangka panjang bersama pemda. Dengan segala upaya tersebut, Ditjen Bina Adwil bertekad untuk terus mendampingi pemerintah daerah dan masyarakat yang terdampak, mengembalikan secercah harapan di tengah bencana.
Artikel Terkait
Kecelakaan di Tol Jagorawi Diduga Akibat Pengemudi Kantuk, Dua Orang Luka Ringan
PBB Soroti Sinergi AI dan Ilmu Sosial untuk Kesetaraan Gender di Bidang Sains
Pemerintah Siapkan Skema Rusun Subsidi Kolaboratif dengan Danantara
Ketua Dewan Pers Dorong Google Segera Bahas Hak Penerbit di Indonesia