Trump Desak Mundur, Rusia Beri Tameng: Venezuela di Tengah Gejolak Karibia

- Selasa, 23 Desember 2025 | 09:35 WIB
Trump Desak Mundur, Rusia Beri Tameng: Venezuela di Tengah Gejolak Karibia

Di Florida, Senin (22/12) lalu, Donald Trump memberikan pernyataan keras soal Venezuela. Sambil pasukan angkatan laut AS diperintahkan untuk memblokade kekayaan minyak negara itu, Presiden Amerika Serikat itu menyebut akan "bijaksana" bagi Nicolas Maduro untuk mundur dari jabatannya.

Pernyataan Trump itu langsung memantik reaksi. Di sisi lain, Rusia, sekutu utama Caracas, justru menyatakan dukungan penuh untuk pemerintah Maduro. Ini terjadi di tengah eskalasi ancaman militer Washington yang kian meningkat.

Ketika ditemui wartawan dan ditanya apakah ancamannya bertujuan menggulingkan Maduro, Trump menjawab dengan nada khasnya.

"Itu terserah dia, apa yang ingin dia lakukan," ujarnya.

Lalu dia menambahkan, "Saya pikir akan bijaksana baginya untuk melakukan itu."

Namun begitu, ancaman terselubung juga dilontarkan. "Jika dia ingin melakukan sesuatu -- jika dia bersikap keras, itu akan menjadi terakhir kalinya dia bisa bersikap keras," kata Trump lagi. Kalimatnya menggantung, meninggalkan banyak tafsir.

Respons datang dari Moskow. Pemerintah Rusia secara tegas mendukung Maduro. Dalam sebuah panggilan telepon, Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov dan rekanannya dari Venezuela, Yvan Gil, secara khusus mengecam langkah-langkah AS baru-baru ini.

Mereka menyoroti serangan terhadap kapal-kapal yang dituding terlibat perdagangan narkoba, plus penyitaan dua kapal tanker minyak. Menurut Kementerian Luar Negeri Rusia, kedua menteri itu menyuarakan keprihatinan mendalam.

"Para menteri menyatakan keprihatinan mendalam mereka atas peningkatan tindakan Washington di Laut Karibia," bunyi pernyataan resmi mereka, "yang dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi kawasan tersebut dan mengancam pelayaran internasional."

Suasana memang makin memanas. Blokade, ancaman, dan dukungan militer saling bersahutan. Situasi di Karibia kini seperti bubuk mesiu yang hanya menunggu percikan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar