Ruang rapat di Kantor DPP Partai Golkar Jakarta mendadak hening sejenak, Sabtu (20/12) lalu. Perhatian tertuju pada penyerahan simbolis sebuah bantuan. Yang menarik, bantuan itu datang dari saudara jauh: DPD Golkar Papua menyerahkan dana kemanusiaan senilai Rp 406 juta untuk korban banjir bandang dan longsor di Aceh. Penyerahannya dilakukan melalui perantaraan DPD Golkar Aceh.
Mathius Fakhiri, Ketua DPD Golkar Papua, menyerahkan bantuan itu langsung kepada Muhammad Salim Fakhry dari Golkar Aceh. Momen itu disaksikan oleh pucuk pimpinan partai, termasuk Ketum Bahlil Lahadalia dan Sekjen Muhamad Sarmuji.
Menurut Sarmuji, inisiatif dari Papua ini punya makna yang dalam. "Bantuan dari Golkar Papua ini sebagai bentuk solidaritas kebangsaan," ujarnya kepada wartawan, Minggu (21/12).
"Meskipun jarak antara Papua dengan Aceh dari ujung timur ke ujung barat wilayah Indonesia, ini mencerminkan sikap satu kesatuan sebagai bangsa. Saling gotong royong untuk membantu," tambahnya.
Nah, dari mana sumber dananya? Ternyata, Rp 406 juta itu adalah hasil urunan dari beberapa pihak. Kontribusi datang dari DPD Partai Golkar Papua sendiri, lalu dari Ketua Golkar Kota Jayapura. Uniknya, ada juga sumbangan yang dihimpun dari jemaat dalam sebuah kegiatan ibadah Kristen Protestan. Jadi, bantuan ini benar-benar menyatukan berbagai elemen masyarakat di tanah Papua.
Di sisi lain, respons dari Aceh pun tak kalah mengharukan. Muhammad Salim Fakhry, yang menerima amanah itu, menyampaikan apresiasi yang mendalam.
"Terima kasih kepada Ketua Golkar Papua, Ketua Golkar Kota Jayapura, dan masyarakat Papua yang telah memberikan sumbangan untuk masyarakat Aceh yang sekarang tertimpa bencana," kata Fakhry.
Ia berjanji akan menyalurkan bantuan itu dengan tepat. "Kami, atas nama DPD Partai Golkar Aceh, akan menyalurkan amanat bantuan ini dengan baik dan memastikan diterima oleh yang benar-benar membutuhkan, masyarakat terdampak bencana."
Suaranya terdengar bergetar saat menyampaikan kalimat selanjutnya. Rupanya, ada satu hal yang paling menyentuh hatinya.
"Kami sangat terharu atas bantuan ini. Kita tahu bahwa masyarakat Papua bukan tergolong masyarakat yang kaya, tetapi bersedia membantu untuk saudara-saudaranya di Aceh," ujarnya.
Kalimat itu, sederhana saja, tapi sebenarnya menyimpan pesan kuat. Di tengah gegap gempita politik nasional, ada cerita kecil tentang solidaritas yang tulus. Sebuah bantuan yang mungkin jumlahnya tak fantastis bagi sebagian orang, namun punya bobot emosional yang luar biasa karena datang dari saudara yang juga punya tantangan ekonominya sendiri. Itulah yang membuat momen penyerahan di Jakarta itu terasa lebih hangat.
Artikel Terkait
Tragedi Anak di NTT Soroti Kerentanan Sistemik dan Pentingnya Program Afirmatif Holistik
Indonesia Usulkan Isu Kelautan Jadi Fokus Baru pada KTT D-8 di Jakarta
Megawati dan Putra Mahkota Abu Dhabi Serukan Kerja Sama Perkuat Toleransi Global
Kapolda Tinjau Lahan Tambak 47 Hektare untuk Dukung Program Gizi Polda Metro Jaya