Dalam satu hari, KPK berhasil melakukan tiga operasi tangkap tangan. Prestasi yang cukup mengesankan, bukan? Tapi, mantan penyidik lembaga antirasuah itu, Yudi Purnomo, punya pesan khusus: jangan cepat berpuas diri.
Menurut Yudi, euforia keberhasilan itu wajar, tapi harus cepat berlalu. "Sehingga euforia bahwa KPK masih ada cukup sebentar saja," ujarnya.
Dia mengingatkan, di balik kesuksesan OTT, masih ada sederet pekerjaan rumah yang menumpuk dan ditunggu publik. Kasus-kasus besar lainnya tak boleh terbengkalai.
"Kemudian sekali lagi, walau KPK hattrick OTT, jangan berpuas diri. Sebab kasus utama KPK yang menjadi PR lain ditunggu KPK," tegas Yudi kepada wartawan, Sabtu lalu.
Bagi Yudi, operasi tangkap tangan hanyalah satu alat. "OTT merupakan senjata penindakan yang harus ada tindak lanjut upaya pencegahan korupsi agar tidak terulang lagi," katanya.
Lantas, kasus apa yang dia maksud? Salah satunya adalah kasus korupsi haji. Yudi menekankan, sampai saat ini, kasus itu belum menunjukkan perkembangan berarti dalam hal penindakan. "KPK tetap fokus haji. Di mana belum ada tersangkanya," kata dia.
Di sisi lain, ada juga kasus buron Harun Masiku yang masih menggantung. Yudi menyinggung soal pemberian amnesti kepada Hasto Kristiyanto. Meski begitu, pencarian terhadap Harun Masiku tak boleh ikut mengendur.
"KPK (juga) harus fokus ke Harun Masiku. Jangan kemudian karena ada amnesti kepada Hasto, jadi malas mencari Harun Masiku," tuturnya.
Justru sebaliknya. "Harun Masiku harus ditangkap untuk membuktikan KPK di jalan yang benar," imbuh dia.
Sebelumnya, KPK memang menunjukkan taringnya dengan tiga OTT sekaligus dalam sehari. Operasi itu berlangsung di tiga lokasi berbeda: Banten, Kabupaten Bekasi, dan Kalimantan Selatan.
Dimulai dari Banten pada Rabu sore, KPK meringkus seorang oknum jaksa. Tak lama berselang, pengumuman kedua datang dari Kabupaten Bekasi, dengan sepuluh orang diamankan, termasuk Bupati Bekasi Ade Kuswara. Operasi ketiga terjadi di Kalimantan Selatan, menjaring Kajari Hulu Sungai Utara yang diduga terlibat pemerasan.
Serangkaian aksi itu tentu mengembalikan secercah kepercayaan masyarakat. Namun, seperti peringatan Yudi, langkah selanjutnya justru lebih krusial. KPK harus membuktikan bahwa mereka tak hanya jago menangkap, tapi juga konsisten menuntaskan.
Artikel Terkait
Solo Rayakan Imlek dengan Kirab Akulturasi Jawa-Tionghoa di Sudiro Prajan
15 Tewas dalam Kecelakaan Mini Bus di Badakhshan, Afghanistan
Pemerintah Intensifkan Pengawasan Harga Sembako Jelang Ramadan 2026
Gubernur Sulut Pimpin Aksi Bersih-Bersih Massal di Tujuh Titik Pesisir Manado