Tiga Pilar Negara Bergerak Cepat, Hadapi Bencana di Sumatera dengan Satu Komando

- Selasa, 09 Desember 2025 | 09:40 WIB
Tiga Pilar Negara Bergerak Cepat, Hadapi Bencana di Sumatera dengan Satu Komando

Senin lalu, ruang rapat di Jakarta dipenuhi para pimpinan teras keamanan negara. Dipimpin Menko Polkam Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, mereka duduk bersama membahas satu hal genting: penanganan bencana di Sumatera. Intinya jelas: negara harus hadir sepenuhnya. Dan hadirnya lewat satu komando terpadu yang mengerahkan semua kekuatan pertahanan, keamanan, dan intelijen.

Tak main-main, yang hadir adalah Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan Kepala BIN M Herindra. Pertemuan tingkat tinggi ini jadi sinyal kuat betapa seriusnya pemerintah menangani krisis ini.

“Dalam situasi darurat seperti ini, yang dibutuhkan adalah kecepatan, ketepatan, dan soliditas yang terkolaborasi,” tegas Djamari Chaniago, sehari setelah rapat.

“TNI, Polri, dan BIN bergerak dalam satu napas untuk memastikan keselamatan rakyat, distribusi bantuan, serta stabilitas keamanan tetap terjaga.”

Pernyataannya itu sekaligus menegaskan komitmen, sekaligus menjawab tudingan yang beredar. Memang, di ruang publik sempat ramai narasi tentang kelambanan. Tapi di lapangan, klaim pemerintah berbeda. Aparat dikatakan sudah bergerak sejak hari-hari pertama bencana melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Lalu, seperti apa gerakannya? Besar sekali skalanya. Dari sisi TNI, ada sekitar 30.864 personel dari tiga matra yang dikerahkan. Mereka tak sendirian. Dukungan logistik masif juga dikerahkan: 18 pesawat, 36 helikopter, dan 16 kapal laut, termasuk kapal angkut. Tujuannya satu: menembus wilayah-wilayah terisolasi, mengangkut logistik, dan mengevakuasi korban secepat mungkin.

Di garis depan, prajurit TNI AD lebih dari 21.700 orang berjibaku membuka jalan terputus, mendirikan tenda pengungsian, hingga mengoperasikan dapur umum. Hingga kini, 1.559 ton lebih bantuan sudah dikirim. Untuk daerah yang benar-benar tak terjangkau, operasi "airdrop" jadi andalan.

Di sisi lain, Polri juga tak kalah gesit. Ratusan personelnya diterjunkan langsung ke tiga provinsi terdampak. Di Sumatera Utara saja, ada tambahan 219 personel dari Brimob, tim medis, hingga unit K-9 dan DVI. Tugas mereka kompleks: evakuasi, identifikasi korban, sekaligus pengamanan lokasi.

Mereka bahkan mengerahkan dua pesawat angkut khusus. Sekitar 3,8 ton logistik mulai dari makanan, obat, genset, hingga perangkat WiFi portabel dibawa untuk menjaga distribusi dan konektivitas di zona bencana. Tugas lain yang krusial: memperbaiki akses jalan dan mencegah potensi kerusuhan atau kriminalitas di tengah kepanikan.

Lantas, di mana peran intelijen? Ini bagian yang sering tak terlihat, tapi vital. BIN aktif memastikan bantuan tepat sasaran dan aman. Jaringannya di Aceh, Sumut, dan Sumbar dimaksimalkan untuk memonitor ancaman, memetakan risiko, serta mengawal distribusi. Semua data dan analisis risikonya disuplai ke pusat sebagai bahan pertimbangan kebijakan.

Fungsi peringatan dini terhadap bencana susulan atau kerawanan sosial juga dipegang mereka. Harapannya, setiap keputusan taktis bisa diambil berdasarkan informasi yang akurat, bukan sekadar asumsi.

Menariknya, kolaborasi ini dirancang bukan cuma untuk tanggap darurat. Menko Polkam menegaskan, kerja sama TNI, Polri, dan BIN akan berlanjut hingga fase pemulihan jangka menengah dan stabilisasi pascabencana.

“Soliditas ini adalah wajah negara di saat rakyat sedang dalam kondisi paling rentan,” ujar Djamari.

“Kami memastikan bahwa bantuan tidak hanya cepat sampai, tetapi juga tepat sasaran, aman, dan berkelanjutan.”

Di akhir, ia berpesan. Masyarakat diminta tak gampang terprovokasi narasi negatif di media sosial. Solidaritas nasional dan kepercayaan pada kerja-kerja kemanusiaan di lapangan, kata dia, adalah modal terbesar untuk melewati masa sulit ini bersama-sama.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler