Bagi warga Bener Meriah, Aceh, berjalan kaki berjam-jam kini jadi satu-satunya pilihan. Logistik di rumah mereka sudah nyaris habis, dan situasi di daerah itu belum juga membaik.
Menurut cerita Wildan, seorang warga, semuanya berawal dari banjir dan longsor hebat yang mengguncang wilayah itu Rabu lalu. Akibatnya, listrik padam total. Sinyal telepon pun hilang timbul, memutus mereka dari kabar dari luar. Yang paling parah, banyak jalan dan jembatan rusak berat, terputus sama sekali.
Kondisi itu membuat pasokan barang terhambat. Di pasar, stok sembako makin tipis. Bahkan untuk mendapatkan BBM di dataran tinggi Gayo itu, rasanya seperti mencari jarum di jerami. Keadaan benar-benar belum stabil.
“Alasan lainnya keluarga juga di luar Bener Meriah,” ujar Wildan.
Namun begitu, dia dan kawan-kawannya bertahan selama seminggu penuh. Kuncinya cuma satu: kekompakan. Mereka mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan dari masing-masing rumah, lalu memasaknya bersama-sama. Gotong royong itu yang menyambung hidup mereka.
“Kami berbagi apa saja yang ada,” jelas Wildan. “Sempat juga patungan beli sembako di hari ketiga, sebelum akhirnya stok di pasar benar-benar habis.”
Kini, setelah berjuang dengan cara itu, banyak yang akhirnya memutuskan untuk pergi. Mereka rela menempuh perjalanan panjang demi mencari bantuan dan menyambung kembali komunikasi dengan keluarga di luar sana.
Artikel Terkait
Dudung Bantah Punya Masalah Pribadi dengan Habib Rizieq dan Menolak Tudingan di Balik Pidato Prabowo
Kapal Nelayan Ditabrak Kapal Kargo di Perairan Kalianda, Satu ABK Hilang
Kapolda Sumsel Resmikan Kedai ADO Presisi, Wadah Ngopi dan Curhat Ojol Jaga Kamtibmas
Korban Longsor di Dramaga Bogor Ditemukan Meninggal, Satu Rekan Selamat