Lalu, bagaimana implementasinya? Di sisi lain, Mendikti Saintek Brian Yuliarto memaparkan rencana konkretnya. Gagasannya melibatkan peran aktif kampus. Para dosen dan mahasiswa akan turun langsung ke lapangan.
"Kami akan memasangkan satu kampus itu membina satu Sekolah Rakyat atau dua Sekolah Rakyat sehingga nantinya mahasiswa dan dosen itu bisa secara teratur, secara berkala, itu mendatangi Sekolah Rakyat ini untuk melakukan proses-proses pembinaan, motivasi," papar Brian.
Brian menyebut pembinaan akan mengarah ke dua jalur: akademik dan vokasi. Selain itu, siswa juga akan diberi gambaran nyata tentang dunia perkuliahan. Harapannya, pemahaman mereka jadi lebih baik dan motivasi untuk kuliah semakin kuat.
"Dengan adanya Perguruan Tinggi-Perguruan Tinggi yang membina para calon lulusan ini, diharapkan adik-adik kita dari Sekolah Rakyat itu menjadi lebih baik pemahamannya. Mereka juga menjadi lebih termotivasi untuk melanjutkan pendidikan tinggi," katanya.
Soal biaya? Brian punya jawabannya. Ia menjanjikan beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) untuk lulusan Sekolah Rakyat yang memenuhi syarat dan diterima di perguruan tinggi.
"Tadi kami sudah bicarakan juga, tentu karena adik-adik ini berasal dari Desil 1, 2, ya Pak, itu yang juga memenuhi standar untuk diberikan beasiswa KIP-K. Sehingga mereka dapat dipastikan bahwa mereka juga akan menerima beasiswa KIP-K," janji Brian.
Kerja sama ini, jika berjalan mulus, bisa jadi terobosan. Dari ruang rapat menteri, harapannya mengalir hingga ke ruang kelas Sekolah Rakyat, membuka pintu yang selama ini mungkin terasa berat.
Artikel Terkait
29 RT Masih Tergenang, Warga Ibu Kota Bertahan di Pengungsian
Gempa 4,6 SR Guncang Nias Utara Dini Hari
Putin dan Larijani Bahas Aliansi di Kremlin Saat Ancaman AS ke Iran Menggantung
Trump: Iran Ingin Berunding, Tapi Batas Waktu Rahasia Sudah Ditetapkan