FFI 2025 Puncak Gemilang, 70% Pasar Box Office Dikuasai Film Lokal

- Jumat, 21 November 2025 | 08:55 WIB
FFI 2025 Puncak Gemilang, 70% Pasar Box Office Dikuasai Film Lokal
FFI 2025: Sebuah Perayaan Warna-Warni Sinema Indonesia

FFI 2025: Sebuah Perayaan Warna-Warni Sinema Indonesia

Kemarin malam, Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki menjadi saksi gemilangnya Malam Anugerah Festival Film Indonesia 2025. Acara yang digelar bersama oleh Kementerian Kebudayaan RI, Komite FFI, dan Pemprov DKI Jakarta ini kembali menegaskan posisinya sebagai puncak penghargaan bagi para pelaku industri film di tanah air. Suasana hangat dan penuh antusiasme terasa jelas sepanjang malam.

Tahun ini, tema besar yang diusung adalah "Puspawarna Sinema Indonesia". Tema ini bukan sekadar pemanis kata. Ia benar-benar ingin menangkap semangat keberagaman warna, identitas, serta sudut pandang kreatif yang kini membentuk wajah perfilman nasional. Proses penjurian pun mencerminkan hal ini, dengan menilai beragam genre, gaya bercerita, dan pendekatan artistik yang ditawarkan oleh film-film yang masuk.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon tak henti-hentinya mengapresiasi perkembangan ini. Menurutnya, dunia perfilman Indonesia kini tidak lagi didominasi oleh satu atau dua genre tertentu saja. Ia menyoroti betapa spektrumnya telah melebar dengan pesat.

"Ke depan, saya berharap semakin banyak film Indonesia yang mengangkat narasi kepahlawanan dan sejarah bangsa. Karya-karya yang memperkuat identitas nasional, menumbuhkan kebanggaan, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda," ujarnya dalam keterangan tertulis yang dibacakan pada Jumat (21/11/2025).

Harapannya, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Kebudayaan tak hanya akan menjaga warisan budaya, tapi juga memanfaatkannya secara optimal. Tujuannya jelas: memperkuat jati diri bangsa, merajut persatuan, dan memberi kontribusi bagi peradaban global.

Di sisi lain, capaian industri juga patut diacungi jempol. Fadli Zon membeberkan data yang cukup menggembirakan: hingga November 2025, bioskop di Indonesia telah didatangi lebih dari 75 juta penonton untuk film lokal. Bahkan, film Indonesia berhasil menguasai sekitar 70% pangsa pasar box office nasional. Sebuah pencapaian yang tidak main-main.

"Berbagai capaian malam ini adalah wujud semangat kolektif, keberagaman bangsa, dan kekayaan narasi yang menjadi denyut nadi kebudayaan kita," ungkapnya penuh keyakinan. Ia menambahkan, dengan kerja keras dan kolaborasi, sinema Indonesia akan terus menjadi kekuatan yang menyatukan dan menginspirasi.

Sementara itu, dari sudut pandang pelaku industri, Ketua Komite FFI 2024-2026 Ario Bayu menjelaskan alasan di balik pemilihan tema "Puspawarna". Baginya, kekuatan film Indonesia tidak pernah tunggal.

"Kita sedang menyusun bersama sebuah sejarah kolektif tentang siapa kita, di mana kita berdiri, dan ke mana kita melangkah," papar Ario dengan semangat. Ia melihat setiap cerita dan sudut pandang bagai kepingan mozaik yang membentuk narasi besar tentang Indonesia.

Ia juga menekankan peran strategis para pekerja film. Di tengah dunia yang semakin cepat dan hiruk-pikuk, mereka bukan hanya penghibur.

"Kita juga punya peran penting untuk menjaga martabat kemanusiaan, melestarikan warisan budaya, dan menyalakan obor kritik sosial yang mencerahkan," pungkasnya.

Gelaran FFI tahun ini terasa istimewa karena sekaligus menandai perayaan usia ke-70 festival tersebut. Pencapaian ini menjadi cerminan nyata dari kemajuan teknis dan keberagaman sinema nasional yang terus berkembang. Posisinya sebagai standar penilaian yang kredibel dan profesional semakin dikukuhkan.

Proses penjuriannya sendiri tidak sederhana. Melibatkan 80 anggota Akademi Citra, 13 asosiasi profesi, serta Dewan Juri Akhir, tahapannya berjalan cukup ketat. Dimulai dari seleksi awal, rekomendasi akademi citra, penetapan nominasi oleh asosiasi, hingga penjurian akhir. Evaluasinya pun kombinasi antara penilaian berbasis skor dan diskusi kualitatif yang mendalam.

Malam itu juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Sekjen Kemendikbud Bambang Wibawarta, hingga Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno turut memeriahkan acara. Kehadiran Duta Besar Perancis Fabien Penone, Didit Hediprasetyo, serta ratusan artis dan insan perfilman melengkapi kemegahan perhelatan akbar ini. Semuanya berkumpul untuk merayakan satu hal: kemajuan sinema Indonesia yang penuh warna.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar